Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

212

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Dec•16

Shalat Jumat di lapangan Monumen Nasional (Monas) tanggal 2 Desember kemarin adalah sebuah peristiwa multidimensional yang sangat menarik. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya, dan jelas-jelas banyak kepentingan yang bermain di situ. Tak mudah untuk menyebut peristiwa ini semata-mata sebagai bagian dari radikalisme Islam. Ada jentera persoalan yang cukup rumit di situ. Kerumitan inilah yang membuat saya memutuskan untuk turut mengobservasi kejadian penting ini.

(Baca Selengkapnya. . . )

Kisah-kisah Hantu*

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 14• Nov•16

Tanggal 30 September 2016 malam, saya mengisi sebuah acara diskusi yang dadakan oleh sebuah komunitas di kawasan selatan Yogyakarta. Tema diskusi yang bertepatan dengan “ulang tahun” peristiwa G-30-S itu adalah tentang rekonsiliasi nasional untuk merajut bangsa yang agak terbelah karena konflik ideologis.

Dalam diskusi ini saya menyampaikan pandangan pokok, bahwa terkait dengan peristiwa-peristiwa pasca G-30-S, konflik terbesar yang kita hadapi sebenarnya adalah konflik dengan akal sehat. Karena itu, rekonsiliasi utama yang harus kita lakukan adalah dengan akal sehat, bukan dengan yang lain-lain. Kita harus segera menghentikan permusuhan kita dengan akal sehat, ketika melihat peristiwa sejarah. Salah satu cara sekaligus hasil dari permusuhan kita dengan akal sehat ini adalah ketakutan akan hantu yang tak jelas bentuknya. Kita adalah bangsa penderita spectrophobia yang sengaja dibuat oleh penguasa.

(Baca Selengkapnya. . . )

Pemuda, Jangan Salah Jawab

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 28• Oct•16

Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 adalah kejadian yang sangat penting secara politik. Peristiwa ini menegaskan semangat nasionalisme yang ketika itu tengah menguat. Tapi tak hanya itu, Sumpah Pemuda juga merupakan hasil dari dua hal penting: kecemerlangan makna “pemuda” dan kemampuan para pemuda menjawab pertanyaan jaman dengan tepat dan cerdas.

(Baca Selengkapnya. . . )

Tilang

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Aug•16

Ini kejadian tahun 1999, di Adelaide, South Australia. Usai menghadiri resepsi menyambut hari kemerdekaan RI di pusat kota, lewat tengah malam tanggal 16 Agustus aku pulang ke rumah di St. Marys. Ke arah rumah, kami mampir sebentar mengantar seorang teman ke rumahnya di sekitaran South Road, lalu lanjut pulang.

(Baca Selengkapnya. . . )

Dukungan Siapa?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 28• Jul•16

“Kabinet baru akan segera diumumkan. Dukungan rakyat sangat penting untuk keberhasilan pemerintah –Jkw.” Demikian kicauan di akun Twitter Jokowi, Rabu 27 Juli kemarin, kira-kira satu setengah jam sebelum dia mengumumkan menteri-menteri baru di kabinetnya. Dia menyebut-nyebut tentang kabinet baru, lalu menegaskan pentingnya dukungan rakyat di kalimat berikutnya.

(Baca Selengkapnya. . . )

Sound System

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 30• Jun•16

Dulu sekali, di awal-awal berdirinya Jamaah Shalahuddin UGM tahun 1980an, konon banyak kisah menarik tentang aktivisnya. Waktu itu hampir tak ada mahasiswi yang berjilbab. Juga tak ada aktivis yang berusaha tampil dan beraksen Arab. Semua biasa-biasa saja. Namun mereka bersemangat untuk merintis kegiatan yang lebih agamis bagi mahasiswa.

(Baca Selengkapnya. . . )

Endog Ceplok

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 12• Jun•16

Madura kampung halaman saya adalah kawasan Muslim yang menyenangkan. Islam adalah mayoritas di sana. 90% penduduknya adalah Muslim. Yang 10%? Muhammadiyah. (Hehehe… Saya ngakak terpingkal-pingkal ketika mendengar guyonan ini pertama kali saat mengikuti ceramah Cak Nun di Universitas Airlangga).

(Baca Selengkapnya. . . )

Mencari Laknat?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 11• Jun•16

Tahun lalu, Ramadlan saya agak membuat ngos-ngosan. Hari-hari pertama berpuasa saya berada di Michigan. Saat itu bumi bagian utara sedang memasuki musim panas, sehingga hari menjadi panjang. Sahur memang biasa-biasa saja, sekitar jam 2.30. Namun kita harus menunggu hingga jam 22 untuk berbuka puasa.

(Baca Selengkapnya. . . )

Pasungan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Jun•16

Suatu ketika saat masih SMP, saya dipanggil oleh Kepala Sekolah (Kepsek) karena membawa motor ke sekolah. Itu pelanggaran peraturan sekolah dan lalu-lintas karena usia saya yang baru 14 tahun. Pak Arief, Kepsek itu, menasehati saya dan beberapa teman secara panjang lebar tentang kesalahan yang telah kami lakukan. Beliau mengatakan bahwa para mahasiswa di Yogya amat sedikit yang bawa sepeda motor saat kuliah. Mereka pada naik sepeda, sehingga tak perlu keluar uang untuk bensin. Uangnya, kata Pak Arief yang alumnus Fakultas Pedagogik UGM, dipakai untuk membeli makanan bergizi sehingga mahasiswa di Yogya pintar-pintar.

(Baca Selengkapnya. . . )