Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Bangkitkan Demokrasi

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 20• May•17

Dalam beberapa bulan terakhir ini kita disuguhi berita bahwa bangsa kita ternyata belum siap betul untuk berdemokrasi. Kita masih terpuruk, baik di ranah demokrasi elektoral, maupun di ranah demokrasi substantif. Karena itu, jika kita hendak merayakan Hari Kebangkitan nasional, rayakanlah dengan membangkitkan demokrasi.

Mari kita lihat apa saja masalahnya, dan hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya.

Pertama, kita ternyata tak cukup ikhlas mengelola demokrasi elektoral dan segala konsekuensinya. Kita belum mampu berpemilu dan berpilkada dengan sebaik-baiknya. Performa kita dalam mengelola konflik kepentingan politik cenderung acak-acakan dan agak memalukan. Dari Jakarta, ibukota negeri, kita dengar kabar buruk itu: mekanisme pilgub ternyata tak sanggup menyelesaikan konflik politik dengan suara. Para pelaku politik di semua level masih terus melanjutkan peperangan dengan berbagai macam cara untuk menunjukkan keburukan pihak lain dan kehebatan pihaknya sendiri.

Pemilu sejatinya adalah cara manusia modern mengelola konflik kepentingan agar tak perlu berebutan, saling melukai dan bunuh-bunuhan untuk memperoleh keuntungan politik. Karena posisi politiknya terbatas, lumrah kalau manusia berebutan. Daripada berebutan dengan menggunakan peluru (bullet), manusia kini memutuskan untuk menggunakan suara (ballot). Harusnya semua pertikaian bisa selesai ketika ballot itu sudah menunjukkan hasil yang jelas. Tapi Jakarta justru memberi kita contoh yang buruk. Keributan tak kunjung surut meski hasil pilgub telah jelas. Di kawasan-kawasan pinggiran memang pernah terjadi sejumlah konflik kekerasan menyusul sebuah acara pemilu. Tapi suasana “peperangannya” tak pernah semasif konflik pasca pilgub DKI.

Jakarta memang ibukota negeri, namun untuk hal ini kita semua tak usah meniru-niru kelakuan buruk yang meruap dari sana.

Kedua, kita juga menunjukkan ketidaksanggupan untuk mengelola perbedaan di dalam masyarakat. Salah satu essensi terpenting demokrasi adalah kemampuan untuk mengelola keragaman secara sehat dan produktif. Dalam demokrasi, kita boleh tak setuju dengan pendapat orang lain, namun kita harus mampu menjamin hak orang lain itu untuk mengekspresikan pendapatnya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh hukum. Demokrasi menjamin hak individual untuk berpikir dan berpendapat, bahkan meski pendapat itu anti-demokrasi sekalipun. Menurut Anda ini dilemmatis? Memang. Itulah kenapa penerapan demokrasi memerlukan kedewasaan berpikir yang paripurna.

Masalahnya, kita masih belum mampu membuktikan kemampuan untuk berpikir secara dewasa. Apa yang dilakukan oleh sebagian kita saat menghadapi perbedaan? Ada yang mensikapi perbedaan dengan menolaknya. Jangankan bercengkerama dengan orang yang berbeda, mengakui hak keberadaan mereka saja kita kerap kesulitan.

Kampus-kampus sekarang kerap menjadi tempat mahasiswa mempelajari kebodohan demokrasi. Sering kita dengar ada penolakan ini dan itu oleh mahasiswa dan dosen di kampus. Gus Dur pernah ditolak masuk kampus. Irshad Manji pernah ditolak masuk kampus. JIL ditolak. HTI ditolak. Saya tidak paham mengapa dosen dan mahasiswa itu menunggu sampai mereka mengenyam pendidikan tinggi untuk kehilangan akal sehat.

Terakhir kita dengar, pemerintah mengumumkan rencana untuk secara hukum membubarkan HTI karena dianggap membahayakan NKRI. Indonesia sedang mengambil nomor antrian untuk serupa dengan negara-negara otoriter di Timur Tengah, dan menjauh dari karakter negara demokratis seperti Inggris dan Australia dimana Hizbuttahrir bisa hidup leluasa.

Apa yang harus kita lakukan untuk membangkitkan demokrasi? Kita bisa mulai dengan mengoreksi dua kesalahan di atas. Pertama, kita harus belajar untuk menghentikan konflik elektoral, segera setelah suara selesai dihitung. Jangan lagi kita cari-cari alasan untuk menyambung pertikaian dan menolak rekonsiliasi. Kedua, kita harus menghentikan kebiasaan menolak pihak lain yang berbeda dari kita. Setiap pihak harus mampu melakukan rekognisi terhadap pihak lain, dan bersedia untuk hidup saling mendekat dengan pihak-pihak yang berbeda.

Demokrasi memang tidak mudah. Banyak pemikir sudah mengingatkan bahwa demokrasi bisa menjadi dilemma terhadap birokrasi, bisa menjadi dilemma terhadap teknokratisme, bisa menjadi dilemma terhadap pemerataan ekonomi, bahkan bisa menjadi dilemma terhadap agama. Tapi kita tak boleh membiarkan demokrasi terpuruk. Demokrasi harus terus kita bangkitkan.

Studi Banding saja ke TPS

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 25• Mar•17

Selalu ada yang aneh-aneh setiap kali anggota DPR kita studi banding ke luar negeri. Dulu ada anggota dewan yang pergi ke negara-negara dengan sistem parlementer, lalu terpukau melihat debat antara menteri dan menteri bayangan di sana. Pulang-pulang mereka gaduh soal kabinet bayangan. Entah mereka sadar entah tidak: kita menerapkan sistem presidensiil yang berbeda dari sistem parlementer. Kalau di sana menteri berdebat dengan menteri bayangan, itu karena semua menteri memang anggota parlemen. Di sini, menteri bukan anggota parlemen.

(Baca Selengkapnya. . . )

212

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Dec•16

Shalat Jumat di lapangan Monumen Nasional (Monas) tanggal 2 Desember kemarin adalah sebuah peristiwa multidimensional yang sangat menarik. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya, dan jelas-jelas banyak kepentingan yang bermain di situ. Tak mudah untuk menyebut peristiwa ini semata-mata sebagai bagian dari radikalisme Islam. Ada jentera persoalan yang cukup rumit di situ. Kerumitan inilah yang membuat saya memutuskan untuk turut mengobservasi kejadian penting ini.

(Baca Selengkapnya. . . )

Kisah-kisah Hantu*

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 14• Nov•16

Tanggal 30 September 2016 malam, saya mengisi sebuah acara diskusi yang dadakan oleh sebuah komunitas di kawasan selatan Yogyakarta. Tema diskusi yang bertepatan dengan “ulang tahun” peristiwa G-30-S itu adalah tentang rekonsiliasi nasional untuk merajut bangsa yang agak terbelah karena konflik ideologis.

Dalam diskusi ini saya menyampaikan pandangan pokok, bahwa terkait dengan peristiwa-peristiwa pasca G-30-S, konflik terbesar yang kita hadapi sebenarnya adalah konflik dengan akal sehat. Karena itu, rekonsiliasi utama yang harus kita lakukan adalah dengan akal sehat, bukan dengan yang lain-lain. Kita harus segera menghentikan permusuhan kita dengan akal sehat, ketika melihat peristiwa sejarah. Salah satu cara sekaligus hasil dari permusuhan kita dengan akal sehat ini adalah ketakutan akan hantu yang tak jelas bentuknya. Kita adalah bangsa penderita spectrophobia yang sengaja dibuat oleh penguasa.

(Baca Selengkapnya. . . )

Pemuda, Jangan Salah Jawab

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 28• Oct•16

Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 adalah kejadian yang sangat penting secara politik. Peristiwa ini menegaskan semangat nasionalisme yang ketika itu tengah menguat. Tapi tak hanya itu, Sumpah Pemuda juga merupakan hasil dari dua hal penting: kecemerlangan makna “pemuda” dan kemampuan para pemuda menjawab pertanyaan jaman dengan tepat dan cerdas.

(Baca Selengkapnya. . . )

Tilang

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Aug•16

Ini kejadian tahun 1999, di Adelaide, South Australia. Usai menghadiri resepsi menyambut hari kemerdekaan RI di pusat kota, lewat tengah malam tanggal 16 Agustus aku pulang ke rumah di St. Marys. Ke arah rumah, kami mampir sebentar mengantar seorang teman ke rumahnya di sekitaran South Road, lalu lanjut pulang.

(Baca Selengkapnya. . . )

Dukungan Siapa?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 28• Jul•16

“Kabinet baru akan segera diumumkan. Dukungan rakyat sangat penting untuk keberhasilan pemerintah –Jkw.” Demikian kicauan di akun Twitter Jokowi, Rabu 27 Juli kemarin, kira-kira satu setengah jam sebelum dia mengumumkan menteri-menteri baru di kabinetnya. Dia menyebut-nyebut tentang kabinet baru, lalu menegaskan pentingnya dukungan rakyat di kalimat berikutnya.

(Baca Selengkapnya. . . )

Sound System

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 30• Jun•16

Dulu sekali, di awal-awal berdirinya Jamaah Shalahuddin UGM tahun 1980an, konon banyak kisah menarik tentang aktivisnya. Waktu itu hampir tak ada mahasiswi yang berjilbab. Juga tak ada aktivis yang berusaha tampil dan beraksen Arab. Semua biasa-biasa saja. Namun mereka bersemangat untuk merintis kegiatan yang lebih agamis bagi mahasiswa.

(Baca Selengkapnya. . . )

Endog Ceplok

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 12• Jun•16

Madura kampung halaman saya adalah kawasan Muslim yang menyenangkan. Islam adalah mayoritas di sana. 90% penduduknya adalah Muslim. Yang 10%? Muhammadiyah. (Hehehe… Saya ngakak terpingkal-pingkal ketika mendengar guyonan ini pertama kali saat mengikuti ceramah Cak Nun di Universitas Airlangga).

(Baca Selengkapnya. . . )