Beberapa waktu belakangan, wacana tentang reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II menjadi rada seksi di kalangan sejumlah politisi. Meski jelas-jelas reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden, tak sedikit parpol dan politisi yang berkepentingan untuk menangkap peluang baru andai hal itu terjadi. Pertanyaannya kini, seberapa besarkah kepentingan SBY atas reshuffle kabinetnya? Apa saja peluang dan masalah yang mungkin muncul jika itu dilakukan?
Hari-hari belakangan, lagi-lagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memamerkan keluh kesah dan curhat pada publik. Dia mengeluhkan tekanan publik yang demikian besar, yang menurut SBY bisa menjerumuskan dirinya pada keputusan yang tak prosedural. “Saya jangan dipaksa”, demikian kata sang Presiden kira-kira, menanggapi tuntutan publik untuk segera menindak-lanjuti rekomendasi dari Tim 8 tentang penuntasan kasus Bibit - Candra dan Polri.
Beberapa waktu yang lalu saya membeli buku karya Sadanand Dume berjudul Teman saya yang fanatik: membongkar jaringan Islam garis keras di Indonesia. Buku yang dalam dalam Bahasa Inggris terbit tahun lalu dengan judul My friend the fanatic ini berisi catatan penulisnya tentang Islam di Indonesia berdasarkan persentuhan pribadinya dengan sejumlah orang dan kelompok Muslim di negeri ini. Baca selengkapnya »
Aku memandangimu dengan termangu, Kawan
Atau sepatutnyakah aku
meremaskan getar sedih di tanganku padamu?
Aku ingin menemuimu
Sungguh
Suatu hari di pertengahan Maret 1957, pimpinan PNI datang menghadap Bung Karno (BK) di istananya yang megah itu. Para pimpinan PNI ini meminta dukungan BK untuk kembali ke UUD 1945, dan meninggalkan UUDS 1950 yang saat itu berlaku dengan sistem parlementer di dalamnya.
Keterbatasan tak jarang mendorong lahirnya kreatifitas yang luar biasa. Dalam keadaan yang serba dibatasi oleh lingkungan, manusia biasanya melahirkan ide-ide dan tindakan yang mengagumkan. Begitulah kiranya keadaan yang paling bisa menggambarkan menguatnya gerakan Islam di kampus sekuler seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sejak pertengahan 1970-an.
Entah dengan cara apa akan kita nilai langkah-langkah SBY dan Partai Demokrat (PD) belakangan ini. Akankah kita nilai mereka sebagai pihak yang lamban dalam memutuskan mitra koalisi dan pasangan capres-cawapres, ataukah kita akan beri mereka predikat sebagai pihak yang cerdas dalam membaca medan, serta mengasapi ‘lubang ular’ agar keluarlah semua kepentingan?
[Bernas Jogja, 6/5/2009]
Perempuan dan politik, barangkali sama seperti perempuan dan mesin. Citra dunia politik dan mesin yang keras, kasar dan kotor selalu dianggap tak cocok dengan idealisasi perempuan yang mesti halus dan bersih.
Padahal keadaannya tak selalu demikian. Baca selengkapnya »
Saya membaca artikel opini yang ditulis oleh Pak Slamet Sutrisno di KR (30/4/2009) dengan penuh minat. Artikel berjudul Pancasila: Kecelakaan Sejarah atau Keniscayaan? itu sangat menarik. Di dalam artikel ini, Pak Slamet menulis bahwa dalam sebuah diskusi buku tanggal 23 April 2009 di kampus UGM, Karim A. Ghofur mengatakan bahwa Pancasila adalah sebuah kecelakaan sejarah.