Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Rais Akbar, in Colors

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 13• Jan•09

Seperti yang pernah saya tulis dalam artikel tentang dinasti,* KH Hasjim Asj’ari adalah salah satu tokoh penting di NU. Ia mewariskan bukan saja tradisi kelembagaan dan pemikiran keagamaan penting di negeri ini, namun juga pohon genealogis yang terus hidup hingga kini. Tentu, tak perlu kita sebutkan lagi perannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Minggu lalu, saya sedikit terkejut mendapati foto tokoh yang kerap dipanggil Hadratus-Syaikh ini dalam keadaan berwarna, di sebuah kalender tahun 2009 yang dicetak PW NU DIY. Yang pernah saya lihat sebelum-sebelum ini adalah foto pendiri dan Rais Akbar NU ini dalam hitam putih (kecuali yang versi lukisan). Entah dengan cara apa — saya yang gaptek ini tak cukup paham bagaimana foto hitam-putih itu bisa menjadi berwarna.

Untuk yang mengagumi pamikiran dan peran ketua MIAI, Masyumi dan Shumubu ini,** saya scan-kan gambar di kalender itu.

***

* Baca juga: Dinasti

** Baca juga: 65 Tahun yang Lalu

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Komen

  1. Good job, Sir 🙂
    Saya juga pertama kali melihat foto ini. Biasanya foto hitam putih dengan wajah masih agak muda dan letak sorban yang berbeda. Foto berwarna ini memberikan nuansa berbeda. Saya menemukan keindahan yang menyeruak dari foto ini. Ada kharisma yang memancar2. Mohon ijin, saya mau mengkopi foto ini…semoga inspiratif. Maturnuwun!!

  2. zulva says:

    penggemar para sesepuh NU ya pak..

  3. Dati says:

    Fotonya keren mas….
    Kemaren temen saya ada yang nyari fotonya KH Hasjim Asj’ari yg berwarna u membuat memorabilia di taman pintar tp ga nemu. Tapi di sini ada dan keren…Sayangnya memorabilianya udah selese dg foto seadanya, karena keburu diresmikan sama pak presiden.

  4. -tikabanget- says:

    pake sotosop bisa dibikin berwarna, pak…

    betewe, sayah salut.
    jarang ada dosen yang konsisten ngeblog di UGM.. ^^
    sayah sebagai (hampir mantan) mahasiswa gumbira..

  5. heru says:

    nice blog…

  6. affan mushoffi says:

    permisi
    ijin menyalin foto

  7. Zaki says:

    Sekedar info. Itu adalah lukisan yang dibuat kang Badri Probolinggo. Dibuat berdasarkan foto kyai Hasyim ketika menemui tentara Jepang. Pertama kali muncul di kalender Tebuireng tahun 2003. Lalu saya scan dan dicetak pada kertas ukuran 46 x 64 CM pada tahun 2006 – 2007. Saya lupa pastinya. Alhamdulillah, skrg sudah menyebar kemana-mana. Semoga bermanfaat.

  8. rahmat ss says:

    mas, jujur ya, sekarang banyak muncul ” pembelaan dan simpati ” kepada para pelaku sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) baik melalui buku maupun sastra ( ada juga sastra eksil ). sekarang banyak bermunculan buku tentang PKI, dengan salah satu peneliti utamanya yaitu Baskara T Wardaya.
    bagi kalangan NU ( dan beberapa kalangan lain yang dulu beroposisi dengan PKI, hal tersebut sangat mengkhawatirkan. yang kita permasalahkan bukan nilai-nilai dasar perjuangan mereka, tapi bagaimana nilai itu coba diwujudkan dengan pendekatan “revolusioner ofensifnya”.
    banyak kaum tua pelaku sejarah NU, yang khawatir dengan kedekatan angkatan mudanya dengan memberi simpati pada yang berkaitan dengan PKI. sehingga kalangan tua marah-marah dan menganggap kaum muda yang tidak belajar-dan mengalami sejarah perjuangan waktu para pendiri.
    kita oke saja pada upaya rekonsiliasi dengan menghapus luka lama. namun, perlu juga diungkap mengapa kalangan para pelaku sejarah yang dahulu beroposisi dengan PKI ( termasuk NU yang dulu dipimpin subchan ze, juga PMKRI dsb ), sangat menaruh kekhawatiran dengan simpati yang meningkat tersebut.
    oleh karenanya, upaya rekonsisiliasi harus berawal dari diungkapnya perihal “tindak-tanduk ” PKI, dalam melakukan aktivitas politiknya ketika partai ini masih berjaya sehingga kaum agamawan (khususnya NU katanya,)sangat menaruh “dendam kesumat”, sehingga ketika ada momen pembumihangusan PKI, kalangan agamawan dengan semangat penuh cepat merespon ajakan tentara.
    bagaimana tentang cerita-cerita land reform yang dilakukan dengan ganas,
    bagaimana tentang penyerbuan pesantren-pesantren di desa-desa,
    bagaimana dengan gedoran di pintu-pintu warga yang menjadi teror di malam buta,
    bagaimana dengan bagaimana yang lain..
    maaf saya emosi.
    butuh penjelasan,
    dengan saling keterbukaan, rekonsisliasi akan menjadi keniscayaan.
    saya jadi teringat ungkapan Tocqueville yg kira2 begini;
    ketika masa lalu tidak mampu menerangi masa depan, maka kita akan selalu berjalan di tengah kabut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *