Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Pembebasan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 30• Dec•11

Tanggal 30 Desember ini, tepat dua tahun Gus Dur wafat menurut hitungan Masehi. Haulnya diperingati dalam minggu-minggu ini, sebab dalam hitungan Hijriyah, tanggalnya sudah tiba beberapa waktu yang lalu. Tahun pertama sejak wafatnya Gus Dur boleh dianggap sebagai tahun berduka-cita bagi yang merasa kehilangan tokoh ini. Namun tahun kedua dan ketiga, duka-cita itu boleh dianggap sudah reda, dan kini tiba waktunya untuk membahas tentang warisan.

Apakah warisan utama yang ditinggalkan Gus Dur bagi kita? Banyak pihak menilai GD sebagai seorang tokoh pluralisme yang amat penting di Indonesia. Di Tebuireng, saat pemakaman GD, Presiden SBY tanpa ragu menyebut tokoh ini sebagai ‘Bapak Pluralisme’. Saya pun sepakat bahwa pluralisme adalah sebuah gagasan penting yang secara konsisten dipegang oleh GD, dan ‘diajarkannya’ pada bangsa ini.

Namun sebenarnya, pluralisme bukanlah satu-satunya warisan gagasan yang ditinggalkan oleh GD pada kita. Bahkan dalam upaya menemukan esensi gagasan GD dalam formulasi yang sederhana, kita bisa melihat bahwa pluralisme hanyalah derivasi dari nilai-nilai inti. Pluralisme hanyalah tampak-permukaan dari nilai dasar yang secara konsisten ditunjukkan oleh GD.

Nilai dasar yang dipegang GD bersumbu pada ketauhidan. Nilai ini dibentuk dalam keluarga inti dan keluarga besarnya, yang sangat kental bernuansa pesantren. Sumbu ketauhidan ini bercabang ke sejumlah nilai, termasuk kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan pembebasan.

Saya memandang bahwa nilai yang amat menarik dalam hidup GD justru adalah pembebasan. Sahabat dekat GD, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), selalu menyebutkan bahwa GD tak cuma cerdas, namun juga berani. Itulah yang membedakan GD dengan tokoh-tokoh lain: keberanian untuk bertindak secara otonom, yang kerap membuatnya nampak gegabah dan inkonsisten. ‘Keberanian’ ini berakar pada nilai pembebasan.

Pembebasan yang secara konsisten ditunjukkan oleh GD adalah nilai dasar untuk melepaskan manusia dari segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh manusia lain. Tak hanya bagi dirinya sendiri, setiap manusia harus berupaya membebaskan manusia lain dari segala bentuk penindasan. Dengan nilai ini, GD selalu tidak rela melihat adanya orang dan kelompok yang mengalami diskriminasi dan ditindas atas dasar apa pun. GD konsisten membela siapapun yang sedang dalam posisi lemah, bahkan Inul saat berhadapan dengan Rhoma Irama sekalipun.

Pembebasan juga mengandung makna otonomi. Setiap manusia dilahirkan sebagai insan yang bebas, sehingga harus selalu terbebas dan mampu membebaskan diri dari kungkungan akibat kepentingan kekinian semata. Menjadi seorang pembebas, membutuhkan jiwa merdeka dan bebas dari segala bentuk ketundukan kepada manusia. Pembebasan menjadikan setiap orang sebagai pribadi yang otonom dan otentik. Ketika seseorang terbebas dari kungkungan kepentingan yang serba kini, maka pilihan langkahnya menjadi mudah dan otonom. Keberanian (atau kenekadan?) yang dilihat orang pada diri GD adalah hasil pembebasan diri semacam ini. GD selalu dinilai sebagai orang yang berani, dan tak takut risiko dalam berucap dan bertindak. Dinilai dari aspek pencapaian jangka pendek, beberapa keuntungan seperti nampak lepas, karena GD melakukan perbuatan yang kelewat nekad. Saat diawancarai dengan Adam Schwarz, GD pernah menyebutkan bahwa “stupidity” (kebodohan)-lah yang membuat Soeharto menolak beberapa gagasannya. Ini membuat GD sempat ‘dimusuhi’ oleh Pemerintah. Sebagai Presiden yang disokong oleh Poros Tengah, GD juga terlalu ‘otonom’ terhadap kekuatan ini. Ujung-ujungnya, Poros Tengah lah yang mendongkel GD.

Pada lingkup kemasyarakatan, nilai pembebasan itu terefleksi dalam semangat emansipasi sosial yang selalu ditekankan oleh GD. Pembebasan sosial untuk menjadikan setiap orang sebagai individu yang otonom dan otentik adalah eleman penting dalam langkah pemberdayaan yang dilakukan GD. Demokrasi yang deliberatif adalah ide sekaligus tindakan yang selalu dijadikan GD sebagai cara untuk mewujudkan emansipasi sosial itu.

Nilai itulah yang perlu kita kembangkan bagi Indonesia ke depan: pembebasan. Gus Dur lebih dari sekadar seorang pluralis. Ia adalah seorang pemimpin yang pembebas. Ia didukung banyak orang karena semangat pembebasannya. Di tengah kecenderungan pemimpin politik yang serba mengungkung dalam klaim loyalitas dan pencitraan, maka pemimpin dengan elan pembebasan ini amat kita butuhkan di masa depan. Itulah warisaan penting GD yang harus dirawat dan dikembangkan.

(Kedaulatan Rakyat, 30 Desember 2011)

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Komen

  1. teguh imansyah says:

    yg presiden GD lakukan thd. golongan minoritas adalah BENAR, tpai belum tentu BERHASIL BAIK UNTUK MAYORITAS, karena azasnya baru BENAR, BELUM ber AZAS BAIK, biar bagaimanapun mayoritas (orang asli penduduk suku-suku di NUSANTARA)tidak di didik mampu MENGORGANISASIKAN “kelompoknya” dalam pola kehidupan sehari-hari masarakat (penduduk/suku-suku NUSANTARA) masih sangat ELO_ELO, GUE_GUE…(tidak kompak) sedangkan MINORITAS memiliki “kebutuhan’bersama sebagai MINORITAS yg. harus SURVIVE, sehingga rasa “ke-kelompok-kanya” lebih kental, harus di “canangkan” di kegiatan masyarakat(keagamaan)untuk menumbuh kembangkan rasa “HARUS SURVIVE” secara masive.

  2. tak pulang rindu pulang malu says:

    @teguh imansyah, ukuran keberhasilannya tidak bisa di ukur dari sekarang. tapi nanti. nilai disandarkan dari kebenaran. tindakan disandarkan dari kebaikan. kebaikan, kebijakan maupun kebijaksanaan sering di belokkan. oleh sebab itu ketika tindakan sudah belok dari nilai asal maka perlu orang yang memandu kemmbali pada nilai-nilai kebenaran kembali. dan GD paling tidak mengajarkan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *