Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Teaching atau Learning

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 25• Apr•13

Beberapa waktu lalu saya menulis catatan tentang pendidikan dasar dari perspektif orang-tua murid, yang bisa dibaca di sini dan di sini. Salah satu komen di tulisan itu justru menyentak saya tentang persoalan yang masih membebani pendidikan tinggi di Indonesia. Berikut ini komen tersebut:

12 th lalu saya mengalami hal yang mirip seperti ini pak Gaffar, mencari-cari sekolah dasar yang baru mengajarkan calistung di kelas 1. Bungsu saya tidak diajarkan calistung di TK, sementara sistemnya begitu masuk SD anak sudah harus mampu calistung. Para kepala sekolah dengan mudahnya pun mengatakan, anaknya nanti dileskan calistung saja di rumah.

Akhirnya kami menemukan sekolah ideal (sama seperti kriteria 1, 2, 4 nya pak Gaffar) yang disukai anak-anak dan memang tidak murah biayanya. Anak-anak terlihat bahagia di sana (si sulung ikut pindah ke sekolah baru pada tahun ke 5), dan dibandingkan para sepupunya mereka terlihat lebih mandiri, eksploratif, kritis, paham konten dan berempati tinggi terhadap lingkungannya.

Sayangnya, sifat kritis dan eksploratif sulung saya saat di perguruan tinggi harus teredam oleh otoritas para dosen yang “tidak rela” melihat mahasiswa “keluar dari pakem pengajaran konvensional”.

Saya tertegun membaca komen itu. Sesaat saya mencoba membantahnya dalam pikiran. Namun setelah sejenak berpikir saya tersadar bahwa dunia pendidikan tinggi masih menghadapi masalah serius dalam hal budaya belajar. Komen itu benar adanya.

Pendidikan dasar dan menengah sudah banyak yang mulai menawarkan metode belajar yang lebih memupuk kreatifitas (meski belum semua). Di tengah kesalahan sistemik akibat negara yang lebih suka menjadi assesor ketimbang fasilitator belajar (seperti terlihat dalam logika Ujian Nasional), banyak sekolah dasar dan menengah yang mampu mengelola proses belajar dengan canggih. Sekolah semacam ini juga disuplai dengan guru yang tak kalah canggihnya dalam mengawal proses belajar, yang direkrut dengan standar yang sudah dibakukan, lalu dibekali dengan metode pembelajaran yang juga telah teruji.

Sebaliknya, banyak perguruan tinggi masih terengah-engah dalam mengawal proses pembelajaran. Komen di atas mewakili keprihatinan banyak mahasiswa (maupun orang-tua mereka), yang mengalami pembelajaran menyenangkan saat di ruang-ruang kelas SD hingga SMU, namun tiba-tiba terjebak dalam suasana ruang kuliah yang monoton saat masuk ke perguruan tinggi. Akibatnya, ruang kuliah tak menjadi tempat menyenangkan untuk belajar.

Tentu saja, ruang kuliah bukanlah sumber pengetahuan utama di perguruan tinggi. Mahasiswa justru didorong untuk resourceful dengan memanfaatkan perpustakaan dan diskusi antar mahasiswa sebagai sumber pengatahuan yang lebih penting. Namun itu bukan berarti ruang kuliah boleh dikelola secara muram dan membosankan.

Kita bisa membahas banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Namun sebagai seorang dosen di sebuah perguruan tinggi, saya ingin menyoroti faktor dosen dalam persoalan itu. Faktor dosen ini terkait dengan satu hal mendasar: Tak banyak dosen yang menerapkan metode learning di ruang kelas. Kebanyakan mereka menggunakan metode teaching.

Mari kita lihat apa bedanya kedua hal itu. Metode teaching menekankan pada relasi guru (dosen) dan murid (mahasiswa), dimana guru menjadi sumber pengetahuan, dan murid menjadi konsumen pengetahuan itu. Hubungannya bersifat searah. Guru berbicara, murid mendengarkan dan mencatat. Sementara itu, metode learning lebih menekankan proses banyak arah dalam ‘menemukan’ pengetahuan. Dalam metode ini, seorang guru (dosen) tak harus menjadi sumber pengetahuan. Semua orang yang terlibat dalam interaksi belajar didorong untuk menjadi penemu pengetahuan secara aktif dan resourceful. Dosen adalah fasilitator bagi proses penemuan pengetahuan oleh mahasiswanya.

Mengapa cukup banyak dosen yang cederung menggunakan metode teaching daripada learning? Banyak sebab. Salah satu di antaranya adalah proses rekrutmen dosen yang cenderung fokus pada aspek penguasaan substansi, tanpa terlalu mengindahkan kemampuan pembelajaran. Dosen biasanya direkrut dari mahasiswa berprestasi akademik di kampusnya, atau diseleksi dari pelamar yang memiliki IP tinggi dan kemampuan menulis bagus. Hasilnya adalah dosen dengan penguasaan substansi yang terjamin bagus, namun belum tentu memiliki ketrampilan mengelola pembelajaran secara baik. Tentu saja substansi itu sangat penting, namun bukan satu-satunya.

Selama saya kuliah (baik di dalam maupun luar negeri), atau bekerja sebagai dosen, saya lihat tak sedikit dosen yang terlalu berat menekankan pada substansi saat mengelola kelas, hingga abai terhadap aspek-aspek lain. Caranya pun beda-beda. Ada tipe dosen yang gemar sekali melakukan eksibisi pengetahuan di depan kelas. Dosen tipe ini nampak sangat menikmati dirinya sendiri, dan menjadikan ruang kelas sebagai tempat untuk menunjukkan pada mahasiwa bahwa dia tahu banyak hal dalam bidang ilmunya. Dia kutip sana sini, tanpa berniat untuk betul-betul membuat mahasiwanya paham. Tujuannya memang menunjukkan bahwa dia hebat. Kadang ia menekankan betapa sulit untuk mempelajari pengetahuan yang dia miliki. Mahasiswa bisa terintimidasi oleh dosen seperti ini. Dosen nampak hebat, mahasiswa mengkeret.

Tipe lain, ada dosen yang menjemukan, yang kalau berbicara di depan kelas seperti sedang menggumam tak jelas. Ia tak pernah melakukan eye contact dengan mahasiwa. Dosen tipe ini nampak tersiksa saat harus berbicara di depan mahasiswa. Ia datang, duduk, membuka catatan, lalu berbicara kepada mikrofon selama kira-kira dua jam. Butuh kesabaran ekstra bagi mahasiswa untuk betah di kelas dengan dosen seperti ini. Saat kuliah dulu, saya sering merasa iba jika melihat dosen tipe ini masuk kelas.

Ada tipe dosen yang orator. Dosen tipe ini tak keasikan dengan dirinya sendiri saat menyampaikan substansi. Ia juga tak menggumam selama dua jam. Sebaliknya, dia mampu memukau ruangan dengan diksi yang unik dan bagus, disertai tekanan yang kuat dan bahasa tubuh yang dramatis. Mahasiswa terpukau. Kuliah dua setengah jam pun tak terasa. Ia idola mahasiswa. Tapi lama kelamaan dia menjadi “dewa” penyebar pengetahuan di hadapan mahasiwanya, sementara sang mahasiswa belum tentu terdorong untuk melakukan penemuan ilmu lebih jauh.

Mungkin masih banyak tipe dosen lainnya. Saya tidak tahu Anda suka dosen tipe yang mana. Saya pribadi menyukai dosen bertipe orator. Dosen seperti ini seringkali sangat inspiratif bagi mahasiwanya. Hanyasaja, bukan tipe itu yang menurut saya ideal dan ingin saya terapkan di kelas. Saya mengidealkan tipe dosen fasilitator, yang menjadi mitra belajar bagi mahasiwa. Singkatnya, learning, bukan teaching. Lebih lanjut tentang hal ini, saya akan ceritakan di posting berikutnya. Sabar ya…

——————–

Gambar dipinjam dari SINI dan SINI.

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Komen

  1. mikromandiri says:

    Ulasana yang menarik untuk disimak….
    Dan perlu juga diketahui buat yang lainnya….

  2. mungkin sebaiknya seimbang ya antara teaching dan learning 😀 jadi nggak benar2 dilepas juga sama dosen hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *