Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Persneling Presiden

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 20• Sep•13

Enakkah menjadi Presiden RI? Saya yakin ini bukan tugas mudah. Lihat betapa nampak lelahnya wajah SBY. Tak pernah kita lihat ia tersenyum lepas. Hidupnya seperti penuh beban. Tatap matanya tak segar. Pastilah tugas sebagai Presiden RI sangat berat baginya. Untung masih ada kita, rakyat Indonesia tempatnya curhat.

Meski tugas presiden nampak begitu berat, antrian orang untuk mengejar jabatan ini selalu panjang. Tahun 2014 SBY pasti akan turun. Mereka yang berminat akan posisi itu sudah mulai ancang-ancang dari sekarang. Mobil mereka telah siap. Tangan mereka sudah memegang tuas persneling. Kaki mereka bersiap menginjak gas. Ada yang meramaikan bursa capres ini dengan lawakan seperti Rhoma Irama, Farhat Abbas, dan semacamnya. Ada yang serius mengincar posisi itu seperti Prabowo, Wiranto, Pramono Edhie, Dahlan Iskan, Mahfud MD, dan lainnya. Ada juga yang berlagak putri Solo, ‘mlaku kaya macan luwe,’ dan selalu berkata ‘masih belum mikir’ seperti Jokowi. Semua sebenarnya siaga dengan persneling masing-masing.

Tentu saja semua berhak untuk ingin jadi presiden RI, asal memenuhi syarat. Kini kita, rakyat pemilih yang perlu memikirkan sikap, agar ambisi para politisi itu untuk menjadi presiden bisa juga bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, saat ini kita harus menjaga jarak. Biarkan saja para elit politik itu yang menggeber-geber gas, memamerkan kekuatan mesin dengan cara masing-masing. Kita masyarakat pemilih butuh untuk tak terlibat di saat-saat ini. Kita harus bisa melihat dengan jernih. Sehebat dan sebaik apapun mereka nampaknya, segala kiprah para politisi itu adalah refleksi dari ambisi kuasa atas KITA. Di saat-saat ini, kita perlu jadi penonton sebentar. Tak perlu sewot kalau Ruhut misalnya, sibuk melarang Jokowi untuk nyapres. Tak perlu kita kuatirkan sinetron konvensi capres di Partai Demokrat. Tak usah pula kita cemaskan oligarkhi di PDI-P. Kita kini jadi penonton saja dulu.

Kedua, setelah berhasil menjaga jarak, penting bagi kita untuk memikirkan tentang Indonesia macam apa yang kita inginkan. Keinginan itu lalu kita jadikan cara untuk menilai para pemburu singgasana kepresidenan itu. Kita bisa bertanya secara sederhana saja: Indonesia harus seperti apa setelah 2014? Kita harus mampu mengajukan pertanyaan kritis, lalu menemukan jawaban secara kritis pula. Apapun jawaban atas pertanyaan itu, bisa menjadi cara untuk membantu kita menetapkan pilihan. Jadi jangan asal mulai dengan figur. Mulailah dengan apa yang harus dilakukan bagi Indonesia, dan siapa yang menurut kita bisa melakukannya.

Jika pilihan sudah ditetapkan, maka mudah bagi kita untuk melakukan hal ketiga, yakni menjauhi money politics. Ini sangat penting. Para calon presiden yang serius pasti akan punya modal besar. Ada yang menggunakan modal sendiri karena beberapa di antaranya sangat kaya. Ada yang dimodali ‘botoh’. Tak satupun yang tak punya uang, dan hanya sedikit yang betul-betul tahu hendak melakukan apa bagi kepentingan rakyat. Dengan keterbatasan konsep kerja yang bisa dijadikan umpan bagi pemilih, sangat mudah diduga bahwa uanglah yang akan banyak berseliweran untuk membeli suara kita. Uang itu akan langsung datang ke pemilih agar mau memberikan suara pada calon tertentu, atau sampai ke tangan penyelenggara pemilu di ujung-ujung depan agar mau melakukan manipulasi suara. Jika ini kita biarkan terjadi, negeri kita akan makin terpuruk.

Bagi kita pemilih, yang penting adalah mendapatkan presiden yang baik. Biarkan saja para calon presiden bersiap-siap dengan persneling masing-masing. Mari kita sibukkan diri menakar mereka semua. Semakin banyak mereka berkiprah, semakin kita tahu mana yang layak, mana yang tak layak kita beri mandat kepemimpinan.

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *