Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Ennahda

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 24• Mar•16

Sore kemarin usai sebuah sesi workshop di Novotel Tunis, seorang peserta, perempuan 50an tahun, mendekat dan mengulurkan tangan menyalamiku. Kuberikan tangan menyambut ajakan salamannya.

“Merci, monsieur Karim,” katanya.

“You are most welcome, Madame,” jawabku dengan nada menekankan bahwa ‘hei, aku ora mudeng bahasa Prancis. Inggris sajo.’

“I really enjoyed your session. I am Aroua ben Abbes, from Ennahda Movement,” dia mengenalkan diri. “And I am a member of the representative body.”

Dia menyerahkan kartunama. Aku membacanya baik-baik. Di situ tertulis bahwa jabatannya adalah ‘Députée à l’Assemblée des Représentants du Peuple.’

Oh wow. Apa artinya itu ya? Wakil ketua DPR?

“So you are from Ennahda?” tanyaku memastikan, sambil memperhatikannya lebih detail. Ia mengenakan blazer hitam, tak memakai kerudung, sama seperti sebagian besar perempuan yang kulihat di Tunis. Cara busananya seperti direksi sebuah multinational corporation.

Ennahda kadang disebut sebagai Ennahda Movement (ﺣﺮﻛﺔ ﺍﻟﻨﻬﻀﺔ), kadang disebut sebagai Ennahda Party (ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻨﻬﻀﺔ). Sebenarnya aku kurang sreg dengan transliterasi menjadi ‘Ennahda’ itu. Melihat tulisan Arab-nya, transliterasi yang benar menurutku adalah Annahdlah. Tapi itu kan menurutku. Orang sini menulisnya sebagai Ennahda. Ya sudah.

Partai yang disebut-sebut oleh Aroua ini adalah partai Islamis yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin, serupa seperti PKS di Indonesia. Tak terbayang saja olehku, ada akhowat PKS pakai busana seperti itu, tak berjilbab, dan ngajak salaman. 🙂 🙂

Makanya aku tanya untuk memastikan apakah benar tadi dia bilang dari Ennahda.

“Yes, I am from Ennahda, the winning party,” jawabnya dengan sangat konfiden.

Ennahda dideklarasikan sebagai partai politik tak lama setelah jatuhnya Ben Ali. Dalam pemilu Konstituante di bulan Oktober 2011, hanya enam bulan sejak menjadi parpol, Ennahda memimpin perolehan suara dengan 37%. Sekjen Ennahda tak lama kemudian menduduki jabatan perdana menteri. Tapi kebuntuan politik setelah pembunuhan dua tokoh opposisi di tahun 2013 membuat Ennahda mengundurkan diri dari pemerintahan. Januari 2014, Ennahda menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan teknokratik dengan tugas utama memulihkan keadaan. Dalam pemilu DPR bulan Oktober 2014, Ennahda berada di urutan kedua dengan 27% suara.

“The winning party.” Aku ulangi ucapan Aroua sambil tersenyum. “I have heard a lot about your party.”

“My party, yes. Although we prefer calling it Ennahda Movement. Harakat Ennahda.”

“I see. Harakat Ennahda. So you are a Nahdiyat,” kataku bercanda.

Aroua terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil dan menjawab, “ah yes, Nahdiyat.”

Baiklah ukhti. Salam saja ya, untuk para Nahdiyin dan Nahdiyat… 🙂 🙂

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *