Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Tujubelasan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 11• May•16

Aku mengenalnya sebagai Pak Undan. Dia seorang tentara, kalau tidak salah berpangkat kopral kepala di sebuah Koramil, di kecamatan tempat Bapakku bertugas sebagai camat. Ini kecamatan yang agak-agak rawan, karena PPP sangat kuat di sini. Bapakku yang adik kandung Ketua DPD PPP malah membawa misi untuk memenangkan Golkar di sini.

Nah, Pak Undan ini tipe tentara yang agak berangasan dan sok tahu. Tapi tentu itu lumrah saja, sebab partai ABRI sedang berkuasa saat itu.

Suatu hari, di bulan Agustus tahun 1982 kalau tak salah, kudengar ada ribut-ribut di kantor kecamatan, yang terletak tepat di samping rumah dinas Bapakku, masih satu halaman. Bapakku sedang tidak di rumah saat itu, kalau tidak salah sedang ke rapat di Kabupaten.

Aku tengok keluar, terlihat Pak Undan sedang marah-marah pada Mas Said, satu dari dua supir Bapak. Pak Undan memaki-maki.

“Said, PKI kamu ya!” Kopelrim sudah ditangannya mau disabetkan.

“Lho ada apa kok tiba-tiba PKI, PKI..?” Mas Said pasang kuda-kuda. Lengannya yang kekar disiagakan.

“Kenapa tadi mobil kol itu tidak boleh dipakai si Anu?” Pak Undan menyebut nama seorang perempuan, yang saya sama sekali lupa sekarang.

“Lho ini mobil dinas camat, Pak. Tidak bisa sembarangan mau dipakai orang.”

“Dia tadi kan mau pergi ke pasar, mau belanja untuk acara tujubelasan. Kamu tidak mendukung acara tujubelasan? PKI kamu!!!”

“Undan!!!” Tiba-tiba kudengar suara Ibuku membentak.

Tentara kalap itu menoleh nginyem, mendengar bentakan Ibu. Catatan dikit, sodara-sodara, Bapakku adalah seorang penyabar yang tak banyak omong, namun Ibuku galaknya minta ampun. Jadi kalau cuma tentara seperti Undan ini, kecil bagi dia.

“Ya, Bu. Siap.” Jawab Kopral Undan.

“Bapak sedang istirahat, ada apa kamu ribut-ribut?” Hehehe pake berbohong lagi.

“Ini Bu, tadi Said cuci mobil di utara, dan saya perlu mobil untuk belanja persiapan tujubelasan, tapi Said tidak mengijinkan.”

“Kenapa tidak diijinkan?”

“Karena ini mobilnya Pak Camat, kata Said Bu.”

“Jadi kamu tahu ini mobilnya Bapak? Kamu tahu harus minta ijin siapa kalau butuh kendaraan??”

“Tahu Bu. Mohon maaf.”

“Ya sudah sana balik. Nanti biar Said antar belanja. Jangan sembarangan maki-maki Said PKI, PKI, gitu. ”

“Siap Bu.” Brakk… Kopral Undan menghentakkan sepatu lars, sebagai tanda siap, lalu balik kanan ke motornya.

Ibu masuk rumah lagi, dan aku mengikutinya sambil terkagum-kagum dalam hati melihatnya membentak-bentak tentara sangar tadi. Si Aminah gitu loh…

Sekadar info, dua bulan sebelumnya aku memperoleh buku otobiografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adams, sebagai hadiah ulang tahun dari Bapak. Yak betul sodara-sodara, aku Sukarnois sejak SD. Dan itu karena Bapakku.

Dari buku itu aku tahu bahwa tahun 1926 banyak tokoh PKI ditangkap Belanda karena pemberontakan besar-besaran yang mereka lakukan. Dari buku itu juga aku tahu bahwa kemerdekaan Indonesia turut disumbang oleh tokoh-tokoh kiri.

Jadi aku paham, betapa ngawurnya Kopral Undan saat menuduh Mas Said sebagai PKI karena tak mau membantu perayaan tujubelasan itu.

Yang aku tak paham, ternyata sampai sekarang, era reformasi yang ditandai oleh supremasi sipil ini, orang sejenis Kopral Undan kok ya masih ada…

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *