Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Tilang

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 03• Aug•16

Ini kejadian tahun 1999, di Adelaide, South Australia. Usai menghadiri resepsi menyambut hari kemerdekaan RI di pusat kota, lewat tengah malam tanggal 16 Agustus aku pulang ke rumah di St. Marys. Ke arah rumah, kami mampir sebentar mengantar seorang teman ke rumahnya di sekitaran South Road, lalu lanjut pulang.

Tapi di tengah jalan, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi di belakang. Mobil patroli itu memberi isyarat agar aku menepi. Mobilpun kupelankan dan berhenti di pinggir jalan.

Seorang petugas polisi berjalan mendekat. Jendela kanan depan kuturunkan.

“Good morning, sir,” sapanya.

“Good morning, officer. You asked me to pull over?”

“Yes sir…” Dia menjawab cepat. “Oh madam, are you expecting?” Tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan melihat istriku sedang duduk di kursi kiri depan, dengan perut membelendung karena hamil tua.

“Yes I am,” jawab istriku.

“It’s due next month,” aku menambahkan, meski tak ditanya.

“Oh I’m sorry to interrupt your journey. Are you going home from somewhere?” Tanya si polisi ramah.

“Yes, it’s Indonesian independence day, and we had a reception this evening, I mean last night, I mean…” Aku rada belepotan karena gak begitu nyadar bahwa ini sudah 17 Agustus pagi.

“Congratulations on your independence day, sir.”

“Thank you.”

“However,” dia mengajak kembali ke laptop. “It seemed that you forgot to turn the headlamp on.”

Subhanallah, iya. Aku baru nyadar bahwa sejak dari kota tadi aku lupa menyalakan lampu. South Road yang terang benderang membuat tak beda antara menyalakan lampu dan tidak.

“So sorry about that.” Langsung kunyalakan lampu untuk membuktikan bahwa semua berfungsi. “Really sorry.”

“That’s fine, sir. Can I have a look at you driving license, please?”

Lalu kusodorkan SIM. Dia tengok-tengok stiker “STNK” mobil di kaca depan, lalu mengambil buku tilang.

Masih dengan raut wajah dan intonasi sangat ramah, dia sodorkan selembar surat tilang kepadaku. “Looks like you are in trouble, sir.”

“I’ll take care of it,” jawabku berlagak cool.

“All the best with the baby, madam.” Dia masih sempat menyapa lagi istriku, sebelum mempersilakan aku lanjut jalan.

Polisi itu ramah, tapi hukum di genggaman tangannya tak bisa ditawar.

Beberapa bulan sebelumnya, di Jogja aku jalan berboncengan naik motor dengan istriku (iyaa… perempuan yang sama dengan yang kuceritakan di atas) di Jl Bayangkara Yogya. Kami sedang mencari sebuah toko. Tapi toko itu kelewat sedikit. Aku berjalan terlalu ke utara. Jadi aku pun memutar kembali ke selatan.

Masalahnya, aku tak sadar bahwa ruas jalan itu searah, sebab dulu-dulunya dua arah. Jadi aku tak boleh memutar ke selatan. Tapi aku menyadari itu ketika sudah terlambat. Seorang polisi keburu datang menghampiri kami dengan motornya.

Dia langsung menghalangi motorku, menjangkau kunci kontak, mematikan mesin dan mau mencabut kuncinya. Dengan semangat revolusioner dia bertanya pakai nanda tinggi, “Tahu apa kesalahannya?”

“Iya pak, ini jalan searah.” Jawabku. “Tapi saya tidak tahu tadi.”

“Apanya tidak tahu, orang sudah jelas tandanya. Mana SIM dan STNK?” Dia masih berbicara dengan nada tinggi, seolah-olah aku baru saja memperkosa adiknya.

Kuserahkan SIM dan STNK.

“Ikut saya ke pos,” kata si polisi sambil menjalankan motornya .

Aku ikut dia.

Di pos polisi (kalau tak salah di Jl. KS Tubun), aku menemui dia di sebuah ruangan. Masih dengan wajah dibuat galak, dia menekankan kesalahan yang telah kubuat. Dia menegaskan bahwa karena kesalahan itu aku bisa ditilang dengan nilai tinggi.

Aku manggut-manggut sambil menahan dongkol.

Tapi kemudian dia menawarkan untuk membantuku menyelesaikan urusan tilang itu. Dia menekankan bahwa proses tilang bisa rumit dan lama. Itu sebabnya, dia bisa membantu dengan biaya total Rp. 50ribu saja.

Aku menolak, dan tetap memilih melanjutkan tilang resmi dengan nilai sebesar Rp. 15 ribu. SIM-ku ditahan, tapi STNK dikembalikan. Begitu kalau tidak salah.

Nah, beda dengan polisi di Adelaide, yang di Jogja ini galak, tapi hukum di genggaman tangannya sangat bisa ditawar.

****

Semua pengalaman lama itu tiba-tiba muncul kembali di ingatanku, ketika aku membaca kisah yang dituturkan oleh Freddy Budiman pada Haris Azhar.

Betapa kisah itu tak mengejutkanku. Mungkin tak mengejutkan kita semua.

Juga, betapa tak mengejutkannya reaksi lembaga-lembaga ini…

—————

Berita terkait bisa diklik di SINI.

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *