Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Siapa Butuh Reshuffle?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 13• Jul•15

Semua presiden RI pernah sibuk dengan urusan reshuffle kabinetnya. Selalu ada semacam masa probation (percobaan) bagi para menteri selama kira-kira satu tahun pertama masa pemerintahan seorang presiden RI. Jika seorang menteri berkelakuan bagus dalam masa percobaan itu, dia lanjut. Jika tidak, dia tukar kursi dengan menteri lain, atau malah hengkang dari kabinet. Selalu begitu berulang-ulang.

Pertanyaannya: siapa sebenarnya yang butuh reshuffle kabinet di Indonesia?

(Baca Selengkapnya. . . )

Pendidikan Tata Kelola Pemilu

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 27• May•15

Anda ingin turut ambil bagian dalam perbaikan pemilu di Indonesia? Informasi berikut ini pasti menarik untuk Anda.

(Baca Selengkapnya. . . )

“Jokowi adalah Kita”

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 17• Feb•15

Frase di atas banyak digunakan oleh pendukung, relawan dan jurkam Jokowi selama masa pilpres. Dengan frase ini, publik diajak untuk turut merasa memiliki Jokowi, serta melihat capres ini sebagai personifikasi kepentingan bersama. Dengan saingan kandidat sebelah yang mudah ditunjuk kesalahan masa lalunya, Jokowi menang pilpres dengan agak mengejutkan: selisih suaranya tak cukup tebal.

(Baca Selengkapnya. . . )

Beban Harapan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 12• Jan•15

Siapapun yang mengamati pilpres Indonesia 2014 akan setuju bahwa Jokowi memang fenomenal. Perolehan suaranya dalam pilpres mungkin biasa-biasa saja. Dengan hanya 53% suara, prestasi elektoralnya sama sekali tak mengesankan. Tapi kiprahnya dalam pilpres telah menyalakan minat politik banyak kalangan. Kalangan muda yang biasanya cenderung apatis terhadap politik, tiba-tiba nampak bergairah menyuarakan sikap politiknya. Kalau pun hasil pilpres kemarin tak begitu mengesankan, voluntarisme yang muncul dari bawah tetap saja luar biasa menarik. Voluntarisme yang didasarkan pada keyakinan dan harapan pada sosok Jokowi ini adalah warisan tahun politik 2014 yang akan dicatat dengan meriah dalam sejarah Indonesia. Dalam tahun itu, Jokowi dirayakan sebagai sebuah harapan baru bagi Indonesia baru.

(Baca Selengkapnya. . . )

Diskon Teladan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 30• Oct•14

Bung Karno adalah seorang ideolog dan pemimpin politik yang flamboyan. Konon dia tak segan-segan merapikan dasi seorang wartawan istana saat menghadiri acara penting kenegaraan. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, BK sempat-sempatnya “menegur” cara berbusana Menhan AS Charless Wilson. BK membetulkan dasi Wilson sambil mengatakan bahwa komposisi warna baju dan dasinya kurang pas.

Pak Harto, sang junta militer yang murah senyum, juga konon sangat menekankan pentingnya kerapian para wartawan saat meliput acara di istana atau cendana. Wartawan senior Ali Shahab pernah menulis di blog pribadinya bahwa ia pernah memperoleh hadiah jas dari Probosoetedjo untuk dipakai saat meliput acara-acara Presiden Soeharto di istana.

(Baca Selengkapnya. . . )

Tahun yang Capedeh

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 08• Oct•14

Bung Karno pernah menyebut tahun 1964 sebagai tahun vivere pericoloso (hidup di ambang bahaya). Pidato kenegaraannya yang amat bergelora pun ia beri judul “Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP)”. Jangan heran, banyak orang yang lahir tahun 1964 diberi nama “Tavip” oleh orang tuanya. Banyak orang terinspirasi oleh pidato yang sekali lagi menegaskan bahwa ‘revolusi Indonesia belum selesai..!!’ itu.

(Baca Selengkapnya. . . )

Menambal-Sulam Negeri

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 09• Sep•14

Salah satu aspek yang dalam politik Indonesia sering dipahami dan diperlakukan secara tidak tepat adalah pemilihan pimpinan eksekutif lokal. Tarik ulur politik kerap terjadi di lingkup ini. Kita masih ingat perdebatan panjang tentang mekanisme penetapan Sultan Hamengkubuwono sebagai Gubernur DIY. Padahal, mekanisme penetapan ini adalah konsekuensi saja dari desain pemerintahan di DIY yang khas dan istimewa, berdasarkan faktor-faktor historis dan sosiologis.

(Baca Selengkapnya. . . )

Demi Bangsa, atau Demi Capres?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 08• Jul•14

Saat ini, pasti Anda sudah memutuskan untuk melakukan apa pada pilpres 9 Juli ini. Ada yang memutuskan untuk memilih pasangan no. 1, ada yang memutuskan untuk memilih pasangan no. 2, ada yang memutuskan untuk tak menggunakan hak pilih. Demokrasi memberi Anda kebebasan untuk menentukan pilihan. Jika hingga saat ini masih ada orang yang mencoba mempengaruhi keputusan Anda itu, tolak saja dengan tegas.

(Baca Selengkapnya. . . )

Dolop Pilpres

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 20• Jun•14

Pernahkah Anda perhatikan tukang obat jalanan? Mereka menjajakan obat-obatan unik yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Ada obat berbahan herbal, ada yang diolah dari satwa, ada yang katanya dibuat dari bunga yang hanya tumbuh di Gunung Himalaya. Terserah mereka saja. Para penjual bebas membual tentang dagangannya. Toh pembeli juga bebas untuk percaya atau tidak percaya.

Dalam rangka membualkan dagangan itu, tukang obat biasanya dibantu oleh staf profesional, yang dalam Bahasa Jawa disebut sebagai ‘dolop’. (Baca Selengkapnya. . . )