Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Damardjati

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 13• Dec•15

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang bagiku sangat inspiratif.

Tahun 90an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ashshiddiqi, Demangan — sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak,” jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak.”

“Tapi jadi dosen kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub.” Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi.”

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga bisa menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati.”

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna ‘tidak ada ilah selain Allah’ yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Aku baru bisa mencerna dan sedikit-demi-sedikit memahami kata-kata itu beberapa tahun kemudian, setelah beberapa waktu menjadi dosen. Bahkan hingga sekarangpun, aku tak yakin apakah bisa mengendalikan ego seperti dimaksud Pak Damar itu.

Lahul faatihah…

===============
Catatan: Kisah di atas tidak saya tulis secara verbatim. Essensinya seperti itu, namun kata-kata yang diucapkan Pak Damar mungkin berbeda secara redaksional.

Siapa Butuh Reshuffle?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 13• Jul•15

Semua presiden RI pernah sibuk dengan urusan reshuffle kabinetnya. Selalu ada semacam masa probation (percobaan) bagi para menteri selama kira-kira satu tahun pertama masa pemerintahan seorang presiden RI. Jika seorang menteri berkelakuan bagus dalam masa percobaan itu, dia lanjut. Jika tidak, dia tukar kursi dengan menteri lain, atau malah hengkang dari kabinet. Selalu begitu berulang-ulang.

Pertanyaannya: siapa sebenarnya yang butuh reshuffle kabinet di Indonesia?

(Baca Selengkapnya. . . )

Pendidikan Tata Kelola Pemilu

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 27• May•15

Anda ingin turut ambil bagian dalam perbaikan pemilu di Indonesia? Informasi berikut ini pasti menarik untuk Anda.

(Baca Selengkapnya. . . )

“Jokowi adalah Kita”

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 17• Feb•15

Frase di atas banyak digunakan oleh pendukung, relawan dan jurkam Jokowi selama masa pilpres. Dengan frase ini, publik diajak untuk turut merasa memiliki Jokowi, serta melihat capres ini sebagai personifikasi kepentingan bersama. Dengan saingan kandidat sebelah yang mudah ditunjuk kesalahan masa lalunya, Jokowi menang pilpres dengan agak mengejutkan: selisih suaranya tak cukup tebal.

(Baca Selengkapnya. . . )

Beban Harapan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 12• Jan•15

Siapapun yang mengamati pilpres Indonesia 2014 akan setuju bahwa Jokowi memang fenomenal. Perolehan suaranya dalam pilpres mungkin biasa-biasa saja. Dengan hanya 53% suara, prestasi elektoralnya sama sekali tak mengesankan. Tapi kiprahnya dalam pilpres telah menyalakan minat politik banyak kalangan. Kalangan muda yang biasanya cenderung apatis terhadap politik, tiba-tiba nampak bergairah menyuarakan sikap politiknya. Kalau pun hasil pilpres kemarin tak begitu mengesankan, voluntarisme yang muncul dari bawah tetap saja luar biasa menarik. Voluntarisme yang didasarkan pada keyakinan dan harapan pada sosok Jokowi ini adalah warisan tahun politik 2014 yang akan dicatat dengan meriah dalam sejarah Indonesia. Dalam tahun itu, Jokowi dirayakan sebagai sebuah harapan baru bagi Indonesia baru.

(Baca Selengkapnya. . . )

Diskon Teladan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 30• Oct•14

Bung Karno adalah seorang ideolog dan pemimpin politik yang flamboyan. Konon dia tak segan-segan merapikan dasi seorang wartawan istana saat menghadiri acara penting kenegaraan. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, BK sempat-sempatnya “menegur” cara berbusana Menhan AS Charless Wilson. BK membetulkan dasi Wilson sambil mengatakan bahwa komposisi warna baju dan dasinya kurang pas.

Pak Harto, sang junta militer yang murah senyum, juga konon sangat menekankan pentingnya kerapian para wartawan saat meliput acara di istana atau cendana. Wartawan senior Ali Shahab pernah menulis di blog pribadinya bahwa ia pernah memperoleh hadiah jas dari Probosoetedjo untuk dipakai saat meliput acara-acara Presiden Soeharto di istana.

(Baca Selengkapnya. . . )

Tahun yang Capedeh

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 08• Oct•14

Bung Karno pernah menyebut tahun 1964 sebagai tahun vivere pericoloso (hidup di ambang bahaya). Pidato kenegaraannya yang amat bergelora pun ia beri judul “Tahun Vivere Pericoloso (TAVIP)”. Jangan heran, banyak orang yang lahir tahun 1964 diberi nama “Tavip” oleh orang tuanya. Banyak orang terinspirasi oleh pidato yang sekali lagi menegaskan bahwa ‘revolusi Indonesia belum selesai..!!’ itu.

(Baca Selengkapnya. . . )

Menambal-Sulam Negeri

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 09• Sep•14

Salah satu aspek yang dalam politik Indonesia sering dipahami dan diperlakukan secara tidak tepat adalah pemilihan pimpinan eksekutif lokal. Tarik ulur politik kerap terjadi di lingkup ini. Kita masih ingat perdebatan panjang tentang mekanisme penetapan Sultan Hamengkubuwono sebagai Gubernur DIY. Padahal, mekanisme penetapan ini adalah konsekuensi saja dari desain pemerintahan di DIY yang khas dan istimewa, berdasarkan faktor-faktor historis dan sosiologis.

(Baca Selengkapnya. . . )

Demi Bangsa, atau Demi Capres?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 08• Jul•14

Saat ini, pasti Anda sudah memutuskan untuk melakukan apa pada pilpres 9 Juli ini. Ada yang memutuskan untuk memilih pasangan no. 1, ada yang memutuskan untuk memilih pasangan no. 2, ada yang memutuskan untuk tak menggunakan hak pilih. Demokrasi memberi Anda kebebasan untuk menentukan pilihan. Jika hingga saat ini masih ada orang yang mencoba mempengaruhi keputusan Anda itu, tolak saja dengan tegas.

(Baca Selengkapnya. . . )