Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tragedi, Buat Siapa?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 14• Feb•13

Lengsernya seorang Presiden, tentu bukan fenomena biasa. Tanpa bermaksud membeda-bedakan manusia karena jabatannya, namun pemecatan seorang Kapolsek karena kasus pungli, misalnya, pastilah punya skala sebab dan akibat yang jauh lebih kecil daripada terjungkalnya Presiden RI. Lengsernya Bung Karno karena kudeta inkremental, Pak Harto karena rapuhnya pondasi kekuasaan di penghujung 1990an, dan Gus Dur karena konflik dengan Poros Tengah dan sekelompok perwira tinggi TNI, adalah tragedi politik yang bukan main-main.

(Baca Selengkapnya…)

Parpol Dalam Kemelut

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 06• Feb•13

Apa yang sebenarnya terjadi di sejumlah parpol kita, barangkali yang tahu hanya Tuhan dan pimpinan tertinggi parpol itu. Tapi di permukaan, publik bisa melihat sejumlah fakta yang cukup jelas. Konflik dan kemelut muncul di banyak parpol. Kadang kemelut ini berujung pada langkah penegakan hukum, tapi kadang juga tidak.

(Baca Selengkapnya…)

Politik Tanpa Teladan

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 23• Jan•13

Sejumlah pengurus yang dimotori Harry Tanoesoedibjo ramai-ramai mengundurkan diri dari Partai NasDem. Alasan utama pengunduran diri itu adalah karena Surya Paloh mengincar posisi Ketua Umum partai tanpa melalui mekanisme yang seharusnya. Harry Tanoe mengaku tak setuju dengan cara itu, sehingga dia tinggalkan Partai NasDem untuk dikendalikan penuh oleh Surya Paloh, pendiri Ormas NasDem yang segala halnya adalah kembar siam terhadap Partai NasDem.

Publik terkejut, terutama karena Harry Tanoe boleh dibilang energi penting di partai ini. Apakah Partai NasDem akan layu sebelum berkembang? Saya kira bukan itu yang penting untuk dibahas. Partai tanpa basis ideologi yang jelas seperti Partai NasDem ini tak akan memberi risiko negatif apapun pada demokrasi kita jika pun ia layu sebelum berkembang. Yang lebih penting untuk dibahas adalah bahwa kejadian di Partai NasDem menunjukkan adanya satu masalah besar dalam politik, yakni dusta publik yang tak ragu dilakukan oleh politisi. Publik tak diberi teladan yang baik, dan justru ‘diajari’ tentang jurus tipu muslihat dalam politik.

(Baca Selengkapnya…)

Negeri Platypus

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 26• Dec•12

Platypus adalah hewan yang unik. Bentuknya sangat khas. Hewan yang hanya hidup di kawasan timur Australia ini seperti karya asemblingan yang asal comot. Ia punya cocor seperti bebek. Kakinya mirip kaki berang-berang. Ekornya seperti ekor tupai tapi lebar. Ia mamalia, tapi bertelur.

(Baca Selengkapnya…)

Melembagakan (Terus) Demokrasi

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 16• Nov•12

Demokratisasi adalah agenda utama setiap negara yang sedang membuang jauh-jauh masa silam otoritarianisme. Hingga demokrasi benar-benar terlembaga, maka negara seperti Indonesia sebenarnya tak boleh leyeh-leyeh. Indonesia masih harus bekerja keras untuk memastikan bahwa struktur, mekanisme, norma dan organisasi demokratik bisa berjalan dengan baik. Kriterianya sederhana: demos berada di centrum; sebab demokrasi adalah demos (rakyat) yang memegang kratos (kuasa).

(Baca Selengkapnya…)

The Ulangan was Easy (2)

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 05• Nov•12

Di bagian pertama sudah saya ceritakan kesulitan kami dalam mengurus pendidikan Perdana dan Afkar sepulang dari Australia. Sudah saya bahas juga problematika yang muncul di masa 3 bulan pertama. Saya akan lanjutkan cerita tentang apa yang kami lakukan untuk mengatasi semua itu.

(Baca Selengkapnya…)

The Ulangan was Easy (1)

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 02• Nov•12

Ia melangkah menuruni tangga. Seperti biasa langkahnya ringan melayang, setengah berjinjit. Wajahnya cerah, begitu pula kata-kata yang diucapkannya sambil melempar senyum pada kami yang menunggu di lantai satu.

I’m done. The ulangan was easy…

(Baca Selengkapnya…)

Kemana Presiden Kita?

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 07• Oct•12

Jumat malam hingga Sabtu dini hari (5-6/10/2012) kemarin, HP saya diramaikan oleh silang informasi. Teman-teman aktivis masyarakat sipil di Jakarta mengabarkan bahwa provos Polri (yang dimaksud adalah Profesi dan Pengamanan [Propam] Polri) menggerebek KPK, untuk menangkap seorang penyidik KPK, anggota Polri berpangkat Kompol. Sejumlah elemen masyarakat sipil sigap berkumpul di KPK, serta saling mengabarkan bahwa mereka akan bersama-sama menjaga KPK dari ‘serbuan’ Polri.

(Baca Selengkapnya…)

Belajar (ke) Jakarta

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 20• Sep•12

Apapun yang dihasilkan oleh Pemilukada DKI Jakarta hari ini, mungkin tak ada efek langsungnya bagi warga DIY ataupun provinsi lainnya. Jokowi atau Foke, yang merasakan untung-ruginya secara langsung adalah warga Jakarta.

(Baca Selengkapnya…)