Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


Tjahaja Sijang

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 06• Feb•08

Minahasa adalah sebuah masyarakat yang unik. Sebagai sebuah kelompok etnik, Minahasa termasuk yang paling belia di antara suku-suku lain di Indonesia. Suku ini baru secara perlahan terbentuk sejak abad ke-17, menuju format sosial sebagaimana yang kita kenali sekarang. Sebelum abad ke-18, nama ‘Minahasa’ bahkan tidak dikenal. Kala itu, kawasan semenanjung Minahasa yang kita ketahui sekarang dihuni oleh delapan kelompok etnik dengan bahasa yang berbeda-beda, yakni Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tondano, Bantik, Ratahan, Ponosakan, dan Tonsawang.

Ada beberapa faktor yang memiliki kontribusi besar dalam ‘penyatuan’ ke-delapan etnik itu menjadi sebuah etnik besar yang kita kenal sebagai Minahasa sekarang.

Pertama, faktor sejarah. Ke-delapan kelompok etnik tersebut memiliki sejarah yang sama. Legenda mereka menuturkan kisah yang seragam tentang dua orang manusia bernama Toar dan Lumimuut, yang merupakan cikal-bakal masyarakat Minahasa sekarang. Anak-cucu Toar dan Lumimuut ini menyebar dan membentuk komunitas sendiri-sendiri, dan lama-kelamaan berkembang menjadi delapan etnik dengan ragam bahasa tersebut. Kendati banyak perbedaan diantara ke-delapan etnik tersebut, mereka berbagi klaim sejarah yang sama dan karenanya relatif mudah untuk nantinya disatukan kembali.

Kedua, faktor politik kolonial. Pada tahun 1679, VOC membuat perjanjian dengan suku-suku kecil di pedalaman semenanjung Minahasa sekarang. Perjanjian ini dimaksudkan untuk memudahkan upaya VOC untuk memerangi para penguasa kawasan pesisir (seperti raja di Bolaang). VOC menekankan aspek teritorialias pada suku-suku kecil di pedalaman itu, dengan menyebut kawasan mereka sebagai Landstreek van Manado.

Perjanjian tahun 1679 ini mengawali proses inkremental unifikasi kawasan Minahasa. Kira-kira 100 tahun kemudian, nama Minahasa mulai dipakai. Catatan Belanda tahun 1789 menyebutkan bahwa nama yang berasal dari kata mina esa (kurang lebih artinya ‘menjadi satu’) ini awalnya digunakan untuk menyebut sebuah dewan yang terdiri dari para kepala suku di kawasan ini.

Namun meski nama Minahasa sudah mulai digunakan sejak tahun 1700-an, unifikasi suku-suku kecil ini baru betul-betul berjalan ketika muncul faktor ketiga, yakni misi Protestan.

Agama yang mula-mula masuk ke kawasan Minahasa adalah Katolik, yang dibawa oleh pelaut Portugis dan Spanyol. Ketika VOC berkuasa di kepulauan Nusantara sejak tahun 1602, Protestanisme mulai menggeser agama Katolik. Penyebaran agama Protestan mencapai puncaknya pada tahun 1800an, semenjak kekuasaan berpindah dari VOC ke pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Misi Protestan di kawasan Minahasa semula dikelola oleh Indische Kerk, sebuah lembaga pemerintah. Tahun 1831, pengelolaan misi ini diserahkan pada NZG (Nederlandsch Zendelinggenootschap), sebuah lembaga misi non-pemerintah yang didirikan 34 tahun sebelumnya.

Misi NZG di Minahasa dimotori oleh pendeta Riedel dan Schwarz, dan memusatkan perhatian pada upaya terwujudnya satu entitas misi untuk seluruh kawasan Minahasa. Upaya ini membawa suku-suku kecil yang berserak itu ke dalam sebuah identitas bersama, yang didasarkan pada kesamaan agama. Jika Mina Esa menciptakan wadah persatuan politik bagi elit, maka NZG mendorong lahirnya persatuan identitas berdasarkan agama pada tingkat masyarakat. Sejak itulah Minahasa betul-betul muncul dalam format sosial seperti yang kita kenal sekarang.

Masih terkait dengan hal ini, faktor keempat yang turut mendorong terwujudnya etnik Minahasa adalah penggunaan bahasa Melayu sebagai lingua franca di kawasan ini. Bahasa ini mula-mula diperlukan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan misi, dan kemudian dalam lembaga-lembaga pendidikan yang dimiliki oleh NZG atau Indische Kerk. Alasan dasarnya sangat praktis: ketimbang repot dengan delapan bahasa yang berbeda, para misionaris dan pendidik lebih mudah menggunakan bahasa Melayu sebagai pengantar.

Selain digunakan dalam aktifitas misi dan pendidikan, bahasa Melayu juga digunakan oleh koran pertama yang terbit di kawasan Minahasa, yakni Cahaya Siang, atau dalam ejaan aslinya: Tjahaja Sijang.

Koran ini pertama kali terbit tahun 1869. Penerbitannya diprakarsai oleh Graafland, seorang misionaris di NZG, yang pada tingkat teknis banyak dibantu oleh Bettink, juga misionaris di lembaga yang sama. Tjahaja Sijang termasuk di antara koran-koran pertama di Nusantara yang diterbitkan dalam bahasa Melayu, setelah Soerat Chabar Betawie (1858, Batavia), Soerat Kabar Melaijoe (1859, Surabaya), dan Bintang Timoer (1865, Padang).

Tjahaja Sijang yang terbit dua kali sebulan ini mungkin tak selalu dianggap sebagai bagian penting dari sejarah pers Indonesia, mengingat penerbitnya yang bukan ‘pribumi’. Namun sulit untuk menyangkal peran sejarah yang dimainkan koran ini dalam pembentukan etnik Minahasa modern. Koran ini telah menghadirkan bahasa Melayu dalam media cetak dan karenanya mendorong penguatan daya unifikasi bahasa ini dalam masyarakat Minahasa.

***

Ketika minggu lalu saya pergi ke Canberra untuk mengikuti acara Asia Pacific Week 2008, seperti biasa saya manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mengunjungi perpustakaan. Ada dua perpustakaan penting di Canberra: ANU Library, dan National Library of Australia. Keduanya memiliki koleksi yang luar biasa tentang Indonesia. Di kedua perpustakaan ini, saya temukan banyak literatur penting yang terkait dengan fokus penelitian PhD saya, yakni Madura dan Minahasa.

Di Menzies Library di ANU, saya senang bukan main ketika menemukan koleksi microfiche Tjahaja Sijang yang sangat lengkap, dari tahun pertama terbit hingga tahun 1925. Total terdapat 274 lembar microfiche, yang masing-masing berisi puluhan halaman Tjahaja Sijang. Isi koran ini sangat beragam, mulai dari berita terbaru, seruan keagamaan, informasi pengetahuan umum, hingga komunikasi kebijakan.

Saya habiskan waktu berjam-jam untuk membaca koran ini di layar microfiche machine. Saya merasa sedang menikmati sebuah elemen penting dalam sejarah masyarakat yang menjadi minat penelitian saya.

Beberapa bagian dari koran Tjahaja Sijang ini saya potret dengan kamera digital, dan beberapa di antaranya saya sajikan di bawah ini. Tak semua tulisan bisa terbaca jelas, tapi gambar-gambar ini bisa diperbesar dengan meng-klik-nya.

Bagian ‘tambahan’ (=suplement?) di edisi tanggal 27 Februari 1869.

Di sini terdapat artikel tentang ‘pertundjukan alam di negeri Paris tahun 1867’.

Perhatikan penggunaan huruf ‘u’ ketimbang ‘oe’. Huruf ‘oe’ akan dibakukan dengan diterapkannya ejaan van Ophuijsen tahun 1901.

Komunikasi kebijakan:

Deri hal Peratoran baharu di tanah Minahasa

Bahawa dalam tahun 1869, maka orang-orang tanah Minahasa telah mendapat luwas dalam perkara ikut djalan sendirinja.

Maka inilah sungguh peratoran baharu jang belom kedapatan dalam tanah ini deri dahulu kala sampej sekarang ini. …

Deri hal najik hadji ka Jerusalem

Lagipula suwatu perkara jang bajik pada mulanya, tetapi jang memberi banjak bawah pedih pada sehirnja harus ditundjuk disini, ja itu: najik hadji ka Jerusalem.

Adapun segala orang masehi jang mengasehi Tuhan Isaj maka ja beringin dan berangka akan pergi di tanah Kanan

Catatan: Perhatikan penggunaan kata ‘najik hadji’ untuk merujuk pada ziarah ke Jerussalem, serta ‘Tuhan Isaj’ untuk merujuk pada Jesus. Nampak sekali pengaruh bahasa Arab dalam bahasa Melayu yang digunakan di sini.

DERI HAL HIKAJET DJAMAAT ELMESEH

Adapun djikalau dibatja “Deri hal hikajet djamat Elmeseh” maka barangkali banjak orang belom mengarti pengartijan perkataan ini. Maka kepada orang itu aku mawu mengartikan perkataan itu welakin dengan pendek. Bermula djamaat Elmeseh itulah sawatu perkumpulan orang jang dipermandikan pada nama Bapa, Anak laki-laki dan Roh ulkudus, dan jang mengakau bahawa Tuhan Isaj Muchalits adanya.

Catatan: Perhatikan istilah-istilah ‘Elmeseh’, ‘Tuhan Isaj’, dan ‘Muchalits’ yang tak lagi dipergunakan kini.

Berita gosip?

Orang mati digigit andjing

Di Pasoeroean adalah telah djadi pada satu hari, maka adalah seorang parampuwan tjina bernama Leentji jang telah digigit oleh andjing didjumirnja. Maka pada ketika itu jang andjing telah gigit dija, maka parampuwan itupun merasalah sakit pedih, tetapi penjakit itu tijada lama, hanja kamudijan deri pada babarapa hari lamanja itu telah sudah djadi bajik.

Maka pada kotika itu jang andjing telah gigit dija maka barang saorangpun tijadalah mengatahuwi andjing itu kurang apa; tetapi djadilah pada satu-duwa hari kamudian maka marika itu tahulah bahawa andjing itu adalah gila.

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

10 Komen

  1. jane says:

    pak, boleh tau kenapa ambil thesis mengenai madura n minahasa?
    is there any unique similarity between both etnic groups?

    thanks
    jane
    (a minahasan living in minahasa)

    Gaffar: Sebenarnya saya meneliti Manado dan Sumenep, serta peran lembaga agama di kedua tempat ini dalam pilkada. Mau tak mau sy harus mempelajari sejarah dan budaya Minahasa/Madura juga. Kalau similarity jelas ada, yakni religiositas dan kontribusinya yg sangat besar dalam sejarah dan budaya kedua etnik. Salam kenal ya. Di Minahasa asal dr mana?

  2. michael mangowal says:

    Dh,
    wah saya salut atas penelitian yang dilakukan, khususnya yang mengenai Minahasa…
    apakah ada rencana untuk mendapatkan seluruh isi dari “Tjahaja Sijang”?? ..
    apakah juga ada bahan2 penulisan bpk yg tersedia secara online (digital)??

    Regards
    michael mangowal

    Gaffar: Terima kasih. Sebagian besar isi Tjahaja Sijang itu ada dalam microfiche seperti yg saya ceritakan. Sayangnya memang tidak tersedia secara online. Kalau ada yang ingin meneliti ttg isi koran ini, saya kira sangat baik kalau bisa berkunjung ke perpustakaan ANU untuk membaca secara lengkap. Waktu itu saya ngobrol dengan rekan saya Gerdi Worang (Dosen FE Unsrat), alangkah baiknya kalau perpustakaan di Minahasa (seperti perpustakaan AZR Wenas di Tomohon) memiliki salinan koran ini.

  3. Aconk says:

    Wah… akhirnya aku ksampaian lihat tjahaja siang, meskipun cm dlm bentuk jpeg aja. Karena koran ini kemaren sempat jadi perdebatan panjang, koran ini tidak dimasukin dalam buku yang diterbitkan Taufiek R. yang diterbitkan dalam rangka memperingati 100 tahun pers, dengan alasan yg punya bukan orang pribumi. Andreas Harsono termasuk orang yang tidak setuju, dia berpendapat sama dengan mas. Salam buat keluarga

  4. Veronica Kumurur says:

    Hai Gaffar thanks banget info2nya. Paling tidak menambah informasi ttg tanah Minahasa dan mendorong pula minat tamang-tamang (teman-teman) Minahasa untuk “takile” (kesentil) cari banyak info lagi buat tanah Minahasa utk penelitian yg lain ttg tanah leluhurnya yang sampe sekarang masih dicari siapa “de pe leluhur pe nama” (siapa nama leluhurnya)

  5. Melky Rawis says:

    Thanks banget buat tulisan ini. Hal saya senang ternyata masih ada orang yang mau perduli dengan sejarah Minahasa. Yang mengherankan justru bukan dari orang PRIBUMI MINAHASA. Muncul dengan membawa hasil dan bukti yang konkrit. Selama ini saya pikir banyak orang minahasa sendiri gak mau perduli lagi dengan sejarah daerah ini, karna kebanyakannya hanya akan berakhir dengan cerita mitos yang tanpa ada bukti2 sejarah yang seperti Om Gaffar da beking ini. Skali lagi thanks banget, karna om Gaffar so membantu beking kita bangga lagi dengan kita pe daerah sandiri.

  6. Mario Soputan says:

    Great! about sejarah Minahasa sebenarnya banyak arsip dari pemerintahan kolonial Belanda tetapi qta orang minahasa krg memanfaatkan sumber2 tsb, klo ada org luar Minahasa yg peduli trhdap Minahsa why not?… Salut buat Bpk Abdul Gaffar yg mngangkat Kebudayaan Minahasa!

    Gaffar: Thx a lot. Saat ini saya tengah membimbing dua skirpsi dan thesis ttg Minahasa. Saya kira ini perkembangan bagus, karena semakin banyak kajian ttg Minahasa.

  7. S Mumbunan says:

    Mas Gaffar, terima kasih banyak untuk ceritanya. Juga untuk minat riset atas daerah saya, Minahasa. Saya senang berkesempatan menengok mikrofilm tersebut. Kalau tidak keliru, dalam disertasinya, ibu Mieke Schouten pernah selintas menyinggung perihal orang digigit anjing itu. Karena Mas Gaffar, sekarang saya bisa “langsung” lihat deh dari Tjahaja Sijang.

    Di waktu senggang, saya mengumpulkan literatur terkait perekonomian di Minahasa, terutama pada era sebelum dan saat Minahasa kolonial. Senang sekali kalau Mas Gaffar bisa berbagi informasi tentang literatur relevan atau rekan-rekan di UGM – atau di mana saja – yang bisa atau perlu saya hubungi.

    Sukses untuk riset dan penulisan disertasinya.

    Salam dari Leipzig,
    Sonny

  8. Adi Palit says:

    Cahaya Siang Manado kini terbit lagi. Personnya masih mempertahankan muka-muka lama ditambah rekruitmen wartawan baru. Namun, kali ini mengusung nama baru Cahya Siang dengan semangat Cahaya dari Timur. Terbit tiap sore dengan 12 halaman.
    Dengan adanya arsip cahya siang ini, telah mendorong semangat kami untuk terus terbit meski dengan modal pas-pasan …

    Selamat ya… Mulai kapan terbitnya? kalau ke Manado lagi saya akan cari koran Cahya Siang…

  9. Abriveno Yohanes Lefran Pitoy says:

    Sebuah tulisan yang menarik tentang media zaman kolonial yang menuturkan tentang Minahasa. Sudah dari dulu saya ingin meneliti tentang Minahasa, tetapi belum terwujud hingga sekarang (padahal kedua orangtua saya mendorong saya untuk melakukan penelitian antropologis tentang Minahasa, khususnya di Tondano dan Tomohon) karena saya tidak besar di sana dan menuntut ilmu di tempat lain. Mungkin saya bisa berkonsultasi dengan Mas Gaffar soal perpolitikan lokal di Minahasa. Kebetulan, saya tengah mendalami political ecology of renewable energy dan berencana hendak mengangkat salah satu lokasi yang ada di Tanah Minahasa, selain di Papua, Jawa Barat, dan Aceh.

    Salam

    Gaffar: Senang sekali kalau kita bisa diskusi. Silakan kirim email melalui “Kontak” di website ini.

  10. Daniel B. Bastian says:

    Trims atas rubrik ini,…
    Berbicara Minahasa memang adalah satu kebanggaan, karna saya lahir di tanah ini,….sejarahnya, dan budanyanya juga politiknya adalah suatu sumbangsi bagi bangsa ini,…sampe kedepan saya optimis bahwa Minahasa begitu mencintai peradaban bangsa Indonesia, karena Minahasa tempoe doeloe juga adalah suatu bangsa,….dan Minahasa kian berbangsa bila keberadaannya sebagai suatu komunitas yg kini berbangsa satu Indonesia selalu mndapat tempat dalam konteks etik, moral maupun spiritualnya,….hal ini yg mesti dilestarikan, agar semangat Minahasa itu takkan pudar ! God Bless Minahasa !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *