Abdul Gaffar Karim

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
<< BERANDA


The Ulangan was Easy (2)

Oleh: Abdul Gaffar Karim - 05• Nov•12

Di bagian pertama sudah saya ceritakan kesulitan kami dalam mengurus pendidikan Perdana dan Afkar sepulang dari Australia. Sudah saya bahas juga problematika yang muncul di masa 3 bulan pertama. Saya akan lanjutkan cerita tentang apa yang kami lakukan untuk mengatasi semua itu.

Ada dua hal yang mulai dikenal Perdana dan Afkar setelah 3 bulan di Indonesia, yakni PR (Pekerjaan Rumah) dan ulangan. Sebenarnya homework sudah mereka kenal di Australia. Kerapkali guru mereka menggunakan kata ‘project’ untuk penugasan rumah ini. Di sana, homework bukanlah tugas mengerjakan soal di buku pelajaran, melainkan eksplorasi kecil-kecilan tentang tema tertentu untuk dipresentasikan di kelas. Kalau mereka sedang mempelajari tentang poduksi pangan, maka gurunya akan memberi mereka project tentang gandum dan roti. Murid-murid akan diminta untuk melakukan riset kecil-kecilan di internet, mencari tahu bagaimana orang menanam gandum dan mengolahnya menjadi roti. Mereka lalu akan mendiskusikannya di kelas.

Di Indonesia, barulah mereka mengenal PR berupa tugas mengerjakan soal. Tugas itu dinilai, dan ada sanksi kalau tidak dikerjakan atau tidak bisa mengerjakan. Nah, nilai dan sanksi ini yang mereka tak pernah dapati dalam homework di Australia. Sanksi tak pernah mereka alami, karena homework di sana selalu menyenangkan dan mengundang minat untuk dikerjakan. Begitu balik ke Jogja, mereka berhadapan dengan tumpukan PR yang tidak menggairahkan. PR itu mereka kerjakan dengan terpaksa dan asal-asalan, sehingga nilainya kerap tidak menggembirakan. Hasilnya? Semangat yang drop.

‘Ulangan’ juga baru mereka kenal di sini. Di Australia, tak ada ulangan berupa sitting exam buat anak SD. Kompetensi mereka dinilai oleh gurunya dengan mengamati proses belajar. Rapot mereka pun isinya adalah catatan kualitatif tentang apa yang mereka sudah pelajari, apa kelebihan mereka, dan dalam hal apa mereka perlu didukung lebih lanjut. Tak ada angka. Ulangan kenaikan kelas? Tak ada juga. Setiap anak akan naik atau tidak naik berdasarkan assesment gurunya tentang proses belajar mereka. Sangat jarang ada murid yang tidak naik kelas dalam sistem seperti ini.

Nah, singkat kata, tak lama setelah mengenal aktivitas ‘ulangan’ itu, Perdana dan Afkar menyebut apapun yang menggunakan mekanisme sitting dan written examination sebagai ‘ulangan’. Kalau dalam judul tulisan ini dan tulisan sebelumnya saya gunakan kata ‘ulangan’, itulah konteksnya.

Sekarang kembali ke cerita tentang out kemana dari jebakan Batman di sekolah yang kurikulumnya berat dan mengekang itu…

Segera setelah kejutan-demi-kejutan yang bermunculan, pada bulan ketiga saya dan Miming mulai blusukan lagi mencari sekolah alternatif bagi anak-anak. Kami buka mata, buka telinga, dan jelajahi dunia maya mencari informasi.

Ada empat kriteria yang kami jadikan dasar untuk mencari sekolah yang lebih baik. Pertama, kriteria metode pendidikan. Kami mencari sekolah dengan metode student-centered learning, dan bukan semata-mata curriculum-driven. Sekolah itu harus mampu mengoptimalkan kemampuan siswanya, ketimbang meletakkan siswa di bawah tekanan kurikulum.

Kriteria kedua adalah visi inklusif. Sekolah itu haruslah memiliki visi multikultur yang bagus, dan menanamkan akhlaq untuk menghormati semua orang kendati berbeda keyakinan. Visi inklusif ini bisa saja dimiliki oleh sekolah berbasis agama, dan sebaliknya bisa saja absen di sekolah umum yang justru menegas-negaskan perbedaan.

Kriteria berikutnya adalah lokasi. Sekolah itu haruslah terjangkau cukup mudah dari rumah, dengan waktu tempuh yang masuk akal. Antar-jemput anak-anak ke sekolah haruslah cukup mudah dilakukan. Alhamdulillah, kami memiliki kendaraan pribadi yang bisa digunakan untuk antar jemput. Namun andai dibutuhkan, sekolah itu idealnya punya sarana antar-jemput yang bisa diandalkan.

Kriteria keempat adalah yang sangat penting, yakni minat. Sekolah yang baik adalah sekolah yang disukai oleh Perdana dan Afkar. Mereka tak boleh terpaksa memilih sekolah tertentu. Pilihan mereka atas sebuah sekolah mestilah didasarkan pada minat dan kesukaan atas sekolah itu. Tanpa minat, maka aktifitas sekolah akan terasa bagai paksaan.

Terkait kriteria keempat ini, ada hal menarik tentang Perdana dan Afkar di SD Negeri yang saya ceritakan di bagian pertama. Saya menangkap kecenderungan bahwa hari Rabu dan Sabtu anak-anak sering nampak enggan berangkat sekolah. Ada saja alasan mereka. Tidak enak badan lah. Capek lah.

Lama-lama kami curiga, ada apa dengan Rabu dan Sabtu? Selidik punya selidik, ternyata Sabtu adalah hari Pramuka di SD itu dan Rabu (kalau tidak salah) adalah hari pelajaran agama. Pramuka adalah aktifitas yang paling tidak disukai oleh Afkar. “I don’t like the teacher who keeps yelling at us,” begitu kata dia. Rupanya aba-aba dalam aktifitas Pramuka yang diucapkan keras oleh sang pembina itu dirasakan sebagai teriakan oleh Afkar.

Pelajaran agama juga tak begitu mereka suka. Selain karena ‘scary‘ (alias menakutkan — mungkin karena penuh ancaman dosa dan neraka), juga karena sering ada ulangan mendadak yang soalnya berat-berat (barangkali butuh ulama sekaliber Prof. Quraish Shihab untuk bisa menjawab benar…). Intinya, minat mereka untuk bersekolah di hari Rabu dan Sabtu itu drop banget.

***

Dengan menggunakan kriteria pertama di atas, kami saringlah informasi sekolah yang ada di Yogya. Saringan ini menghasilkan tiga alternatif unggulan: SD Tumbuh, SDIT BIAS, dan SDI Al Azhar 31. Berdasarkan informasi tertulis, plus observasi awal ke lokasi, kami melihat bahwa ketiga sekolah ini menerapkan metode student-centered learning dengan amat kreatif. Dengan caranya masing-masing, setiap sekolah menjadikan kelas sebagai tempat murid-muridnya belajar bersama. Kelas-kelas kecil yang terdiri dari 20 murid tampak menarik, dikelola secara dua arah dan amat mendorong kreatifitas. Ketiganya kami beri nilai A+ untuk kriteria pertama.

Nilai yang sedikit beragam kami berikan untuk kriteria kedua, visi inklusif. SD Tumbuh menurut saya memiliki nilai A+ untuk inklusifitas. Secara fisik pun, sekolah ini adalah yang paling inklusif dibanding dua sekolah lain yang sedang kami jajagi. Al Azhar berada di posisi kedua, dengan nilai A-, dan BIAS kami beri nilai B. Pada intinya, ketiga sekolah ini boleh dibilang lulus kriteria kedua. Aman.

Bagaimana kriteria ketiga? Observasi yang kami lakukan ke sekolah-sekolah itu sekaligus untuk menjajagi kriteria lokasi itu. SD Tumbuh berlokasi di Jl. AM Sangaji di kawasan Jetis. Jaraknya dari rumah kami di Rejodani adalah sekitar 8km. BIAS terletak di sebelah utara rumah kami, dengan jarak sekitar 3km. Akses utama adalah dari jalan Kaliurang, namun dari rumah kami ada jalan pintas lewat daerah Plumbon. Al Azhar terletak di Jalan Ringroad Utara, di depan Asrama Haji Yogyakarta. Jaraknya dari rumah adalah 5km.

Dari segi jarak, BIAS memang paling dekat, namun dari segi rute, sekolah ini akan memberi saya itinerary harian yang berputar: dari rumah ke utara menuju BIAS, lalu ke selatan lagi menuju ke kampus UGM di Bulaksumur. Dari hitung-hitungan jarak tempuh total, BIAS adalah yang paling ‘jauh’. Jarak tempuh ke SD Tumbuh adalah yang paling panjang, namun rute ke UGM dari Jetis cukup simpel. Yang paling dekat tak ayal adalah Al Azhar. Rutenya betul-betul searah dari rumah ke kampus UGM.

Jujur saja, kami sempat mengabaikan satu kriteria penting saat penjajagan awal sekolah-sekolah tersebut, yakni ketersediaan kursi di kelas 1 dan kelas 3. Secara operasional, penting sekali bagi kami bahwa Perdana dan Afkar sekolah di lokasi yang sama. Ini akan sangat memudahkan. Bayangkan jika mereka harus masuk di jam yang sama, sedang sekolah mereka satu di utara satu di selatan. Mumet

Setelah menjajagi lebih lanjut, ternyata hanya Al Azhar yang punya 1 kursi kosong di kelas 1, dan 1 kursi kosong di kelas 3. SD Tumbuh hanya punya kursi kosong di kelas 3. BIAS malah penuh. Ya sudah, keduanya harus kami eliminasi.

Karena itu, tersisa Al Azhar sajalah yang perlu kami ukur dengan kriteria keempat: minat Perdana dan Afkar. Untuk menguji hal ini, mereka berdua harus diajak melihat calon sekolah baru ini. Maka pada suatu hari mereka kami pamitkan dari sekolah di Kotabaru, untuk meluncur balik ke utara melihat-lihat Al Azhar.

Di lokasi sekolah, mereka kami ajak menemui staf yang sedang berada di kantor. Dari sini kami diantar melihat-lihat ruang kelas 1 dan kelas 3. Perdana dan Afkar tak banyak bicara. Mereka cuma melongok-longok sebentar ke ruang kelas, dan nampak sumringah melihat ruang kelas yang sangat mirip dengan ruangan mereka di Victoria Park Primary School dulu. Murid-murid sampai kelas 3 duduk dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja-belajar (mirip metode Montessori), dipandu oleh satu orang guru dan satu asisten. Dalam satu kelas ada 20 orang, yang semuanya nampak aktif dan antusias.

Perdana dan Afkar sempat bertemu dengan Pak Shadiqin, guru agama yang nampak sangat mahir mengambil hati dan perhatian anak-anak. Kami biarkan mereka berdua berbincang dengan Pak Shadiqin selama beberapa saat, sebelum beliau masuk kembali ke kelas.

I like this school, Dad.” Itu yang diucapkan Perdana pada saya kemudian. Cara bicaranya seperti biasa, serius dan meyakinkan.

Yeah, I think we should move here,” timpal si Afkar.

Kami berdua pun lega melihat anak-anak berminat dengan sekolah ini. Tapi mereka tak bisa langsung pindah begitu saja. Ada prosedur pendaftaran yang harus diurus. Ada uji kompetensi yang harus mereka jalani. Perdana dan Afkar dijadwalkan untuk segera mengikuti uji tertulis dan uji wawancara, langsung dengan Ibu Suhartini, sang Kepala Sekolah.

Saya sempat berpesan pada beliau, bahwa mereka berdua masih agak terbata-bata dengan Bahasa Indonesia.

“Tidak masalah, Pak,” jawab Bu Kepsek. “Saya akan ajak guru Bahasa Inggris untuk mendampingi saat wawancara.”

Beberapa hari kemudian, mereka berdua kembali ke Al Azhar untuk uji kompetensi. Hari itu kami berdua hanya boleh mengantar mereka hingga ke lantai satu, sedang mereka harus naik sendiri ke lantai dua menemui Bu Kepsek. Prosedur ini pun agaknya adalah bagian dari uji kemandirian calon siswa.

Maka begitulah, sepanjang hampir satu jam itu kami berdua duduk seperti sedang menunggu hasil cek kesehatan…

***

Afkar yang selesai wawancara duluan. Kami menoleh ke atas saat mendengar ia melangkah menuruni tangga. Seperti biasa langkahnya ringan melayang, setengah berjinjit. Wajahnya cerah, begitu pula kata-kata yang diucapkannya sambil melempar senyum pada kami.

I’m done. The ulangan was easy…”

Tak lama, Perdana menyusul. Ia yang memang rada-rada jaim cuma mengangguk-angguk sambil melangkah turun, memberi isyarat bahwa ia merasa yakin dengan wawancaranya.

***

Beberapa hari kemudian kami menerima kabar bahwa keduanya bisa diterima di Al Azhar.

Alhamdulillah. Kami amat lega. Kini tinggal urusan dokumen, pembayaran dan semacamnya. Tentu saja sekolah semacam ini sama sekali tak bisa dibilang murah. Namun kami lega bahwa satu beban pikiran tentang pendidikan bagi Perdana dan Afkar telah kami atasi.

Bulan Januari 2009, usai libur semester, mereka berdua resmi menjadi murid Al Azhar. Tak ada lagi hari-hari malas berangkat sekolah. Tak ada lagi wajah suntuk sore hari setiba di rumah. Mereka amat menikmati hari-hari di sekolah baru. Kemampuan mereka berbahasa Inggris termanfaatkan dengan baik. Di sana setiap murid didorong untuk memupuk prestasi sesuai dengan minat dan kebisaan masing-masing. Tak lama di sana, Perdana dan Afkar sudah mulai memenangkan lomba Bahasa Inggris (termasuk speech contest dan spelling bee) atasnama sekolah. Bulan Maret, Perdana sudah diutus sekolah untuk mengikuti kejuaraan nasional story telling di Jakarta.

Di bulan yang sama, saya mulai memperoleh lagi teman-teman berdebat dan berdiskusi di rumah, sebab Perdana dan Afkar sudah kembali resourceful dan bisa berargumen. Mereka tak lagi berwirid ‘pokoknya’…

Bookmark and Share

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

23 Komen

  1. linasophy says:

    pengalaman adalah guru besar kehidupan, ceritanya sangat menarik. terimakasih sudah berbagi bapak Gaffar…

    salam 🙂

  2. Bukik says:

    Iya sama dengan kami
    Kami tidak memilih sekolah negeri, meski dulu lulusan sekolah negeri
    Jaman sudah berubah

  3. Irma says:

    Nice Story Pak.. I just pass ur story to hubby. Kriteria sekolah yg Bapak cari pas bgt dengan yg saya inginkan untuk anak saya (22Month) nanti. Belajar sendiri instead of menghafal.

  4. edwardbot says:

    Pengalaman yg menarik Pak Gaffar..
    Kriteria-kriterianya bisa dijadikan acuan

  5. Aar says:

    Salam kenal mas,
    Seru mengikuti proses pencarian Anda utk mendapatkan pendidikan yg terbaik utk anak2. 🙂

  6. jeni says:

    12 th lalu saya mengalami hal yang mirip seperti ini pak Gaffar, mencari-cari sekolah dasar yang baru mengajarkan calistung di kelas 1. Bungsu saya tidak diajarkan calistung di TK, sementara sistemnya begitu masuk SD anak sudah harus mampu calistung. Para kepala sekolah dengan mudahnya pun mengatakan, anaknya nanti dileskan calistung saja di rumah.

    Akhirnya kami menemukan sekolah ideal (sama seperti kriteria 1,2,4 nya pak Gaffar) yang disukai anak-anak dan memang tidak murah biayanya. Anak-anak terlihat bahagia di sana (si sulung ikut pindah ke sekolah baru pada tahun ke 5), dan dibandingkan para sepupunya mereka terlihat lebih mandiri, eksploratif, kritis, paham konten dan berempati tinggi terhadap lingkungannya.

    Sayangnya, sifat kritis dan eksploratif sulung saya saat di perguruan tinggi harus teredam oleh otoritas para dosen yang “tidak rela” melihat mahasiswa “keluar dari pakem pengajaran konvensional”.

  7. Ade says:

    Pengalaman keluarga Pak Gaffar mirip dengan kami, yang mencarikan sekolah untuk anak2 sepulang dari Sydney.
    Untungnya di Surabaya ada SD alternatif yg inklusif dan bisa mengakomodasi ‘kekurangan’ anak kami yg blm lancar bahasa Indonesianya. Sejak awal saya memang tdk berminat dg ‘sekolah dasar unggulan’yg mengedepankan nilai2 ujian saja.
    Dua nilai plus untuk SD Alam Insan Mulia Surabaya: tidak ada PR dan jaraknya dekat sekali dari rumah kami, sehingga kami bisa naik sepeda onthel ke sekolah.

  8. Asef Fahrizal says:

    Senang juga karna sdh menjadi bagian di Al Azhar 31, walau hanya sesaat,
    (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  9. Terima kasih buat komen2nya. Senang sekali ada pak Asef juga, guru kesayangan anak2 saya… ))

    Tulisan ini terutama adalah cara saya mengingatkan diri saya sendiri, agar sebagai guru bisa selalu menjadikan murid2 saya sebagai sentrum pembelajaran, dan tak mengekang kebebasan berpikir mereka.

    Karena itu, sangat menyenangkan kalau semakin banyak orang tua yang bersedia berbagi pengalaman di sini.

  10. Bayu Dardias says:

    Al Azhar 31 is a good school, no doubt about it. Tapi anehnya, Jilan yang sedang dalam masa persiapan ke Australia pindah ke Sumedang kok merasa lebih nyaman sekolah di SDN Sokaraja 2 Sumedang dibandingkan di SDI Al Azhar 31. Dia senang dengan teman-temannya yang beragam latar belakang. Guru-gurunya yang pernuh dedikasi dlm mengajar. Artinya menurut Jilan, kecanggihan metode dan administrasi pembelajaran tak bisa mengalahkan kesungguhan hati guru-guru untuk mengajar, kira-kira begitu.
    Kalau adiknya, lebih nyaman di Al Azhar karena jam 9.30 sudah pulang :).
    Jadi tak mesti SDN unggulan itu lebih buruk. Kalau soal kurikulum, well, he read more pages in Canberra in a day compare to a chapter here.

  11. Theresia Triningsih says:

    Menjadi inspirasi

  12. sigit pamungkas says:

    Terimakasih Bapak Gafar, berbagi pengalamannya seperti sedang membaca novel. Tidak menarik, hanya sangat menarik. Selamat atas kelahiran si ragil, sudah bisa mbrangkang belum ya?

  13. ali sahbana says:

    Trims, Pak Gaffar saya seorang guru di Kediri , sangat inspiratif

  14. syaifulloh says:

    perjuangan luarbiasa untuk mendpatkan sekolah yang bisa memberi martabat anak, insyaalloh konsep bermain itulah inti dari belajar, lambat laun akan dimengerti sevara umum di pendidikan kita.

  15. Syaiful Anwar says:

    Sangat mencerahkan Pak. Anak saya masih 3,5 th dan adiknya 8 bulan. Si Sulung sedang playgroup di BIAS, dan sekarang menjadi lebih mantap buat saya untuk tetap menyekolahkannya di sana atau kalaupun beralih tetap yang mirip2 (inklusif).
    Terima kasih.

  16. erni zuhriyati says:

    wah, saya kok menanggapi dari perspektif lain ya gus, maaf, saya kira orang tua adalah pendidik yang ter baik, utama dan pertama, yang memiliki senjata pamungkas tuk keberhasilan putra putrinya yaitu doa.Sekolah unggulan dalam tanda petik mahal bukan satu-satunya jaminan bahwa muridnya kan menjadi anak manusia yang hebat.Bukan, sejarah membuktikan banyak orang yang luar biasa bahkan tumbuh dari kepapaan,keprihatinan, dan keterbelakangan ekonomi. tetapi alam membuat ia menjadi kuat mental, berdedikasi tinggi, jujur dan menghargai orang lain, penolong. karakter dan nilai inilah yang tidak bisa di dapatkan di sekolah, akan tetapi dikerasnya kehidupan. banyak sekali sekolah biasa saja, bahkan gurunya hanya digaji sebulan 100 ribu, tetapi ia menanamkan kejujuran, ketulusan untuk mengabdi kepada kemanusiaan.wallahu a’lam

  17. pak karim ceritanya bagus sekali…

  18. bapak karim ceritanya Bagus Banget pak?…

  19. kiki says:

    saya tertarik sekali dengan ceritanya. tapi yg sangat di sayangkan kenapa tidak ada sekolah yg mengedepankan cara pembelajaran seperti itu yg berbiaya relatif terjangkau. hiks…sungguh saya dilema untu menyekolahkan anak sya kemana karna jujur saya tidak setuju dengan sekolah yg memberikan banyak pr dan hanya mementingkan nilai yg “sempurna” ketimbang pemahaman anak ttg suatu pelajaran.

  20. Wiji Mulyadi says:

    Seperti kejadian di keluarga saya. Saya berada di USA selama hampir 24 tahun dan istri saya 19 tahun. Kami menikah di USA dan mempunyai anak di sana. Tahun 2011 memutuskan pulang ke Indonesia. Anak pertama berumur 16 tahun baru lulus SMP, akan masuk ke SMA dan anak yang kedua naik kelas 5 dan yang terakhir kelas 3. Menemukan sekolah mudah hanya persyaratanya membingungkan. Anak pertama hanya bertahan 2 minggu di pesantren dan berhenti sekolah. Kemudia kami mencobanya memasukan dia di SMA Negeri yang unggul di Tasikmalaya. Di sekolah tersebut tidak bisa melayani anak yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Soal yang di garap sama dengan yang lain akhirnya tidak di terima. Setelah itu kami masukkan ke SMA Muhammadiyah dan di situ hanya bisa bertahan 2 bulan akhirnya keluar sekolah. Kami memutuskan untuk di kirim lagi ke USA dan bisa tinggal sama pamanya. Anak yang kedua dan ke tiga selalu membutuhkan motivasi saja karena usia masih relatif kecil dan sampai sekarang masih di Pesantren dan sudah menghafal Qur’an 7 juz dan 6 Juz. Intinya, Pendidikan di Indonesia belum bisa memberi anak yang seperti anak kami. Kalau Di USA, guru siap mengajar siapa saja yang berada di kelasnya.

  21. Indah says:

    apa yg diutarakan pak gaffar sy setuju…memang itu yg kami cari utk pendidikan anak kami…tapi sayangnya…ono rego ono rupo..cost untuk mendapatkan pendidikan yg nyaris ideal seperti itu sangatlah mahal..maka orangtua yg hanya berpenghasilan pas-pasan spt kami sangatlah sulit untuk menjangkaunya..Mungkin kurikulum pendidikan di Indonesia yg harus diubah dan disertai dengan pemahaman dan kesamaan visi misi pendidikan itu sendiri oleh para guru…Nah bapak Gaffar mungkin bisa menyampaikan uneg2 kami ini kepada para pengambil keputusan ttg masalah pendidikan? Secara skrg Bpk Pratikno mantan Rektor UGM sdh mjd Mensesneg…Maturnuwun Bapak sdh bersedia sharing dg kami…

  22. Tommy says:

    Cerita yang sangat menarik, Mas. Saya ada wacana untuk pindah ke Jogja di tahun 2016, dan karena saya adalah alumni SD negeri favorit di bilangan Kotabaru itu, makanya saya juga berencana untuk menyekolahkan kedua putri saya disana.

    Baca cerita Mas Gaffar kok trus jadi bikin ngelus dodo (dodone dhewe, dudu dodo tanggane), ternyata waktu lebih dari dua dekade telah mengubah wajah sekolah dimana saya adalah salah satu alumninya. Saya pun tidak mau anak-anak hanya menjadi tak ubahnya tape recorder yang pandai mengulang tanpa tahu “the reason why”.

    Matur nuwun atas tulisannya, saya akan cek ketiga SD hasil shortlist Mas Gaffar sebagai bahan pertimbangan sebelum tahun ajaran baru 2016 nanti.

  23. Himmah Malihah says:

    Alhamdulillah…senang sekali membaca artikel ini. Pertama melihat foto Perdana sy bertanya2 betul tidak yaaa……baru berani memastikan setelah ending. Ternyata betul itu mas Perdana yg pinter pidato bhs inggris dan sering menang dlm lomba mewakili sekolah. Berarti tdk salah kl sy sbg guru AA memilih mulai menyekolahkan anak saya di AA walo msh jenjang toddler. Sangat menginspirasi lho pak….pdhl suami sy mulai merancang pendidikan stlh TK kelak akan dimasukkan ke sd negeri yg kotabaru itu. My husband harus think twice kayanya yaaa…..hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *